
Evolusi World Wide Web adalah salah satu transformasi teknologi paling besar di era modern. Ketika kekhawatiran atas privasi data dan dominasi terpusat makin meningkat, memahami perbedaan antara Web2 dan Web3 menjadi esensial bagi siapa pun yang ingin menguasai lanskap digital saat ini. Artikel ini mengulas perkembangan historis web, membedah perbedaan mendasar setiap generasinya, dan menyajikan wawasan tentang cara kedua teknologi tersebut membentuk pengalaman online kita.
World Wide Web berkembang melalui tiga fase utama, yang masing-masing menandai perubahan paradigma dalam interaksi pengguna dengan konten dan layanan digital.
Perjalanan dimulai pada 1989, saat ilmuwan komputer Inggris, Tim Berners-Lee, menciptakan versi awal web di CERN (European Organization for Nuclear Research). Tahap pertama ini, dikenal sebagai Web 1.0 atau web “hanya baca”, terdiri atas halaman-halaman statis yang saling terhubung lewat hyperlink. Pengguna hanya mengakses informasi, mirip dengan membaca ensiklopedia online seperti Wikipedia, namun hampir tidak bisa berinteraksi atau berkontribusi pada konten. Sepanjang 1990-an, makin banyak pengembang dan server bergabung ke jaringan, membuat Web1 semakin mudah diakses di luar lingkup penelitian profesional, sekaligus membentuk fondasi internet yang kita kenal sekarang.
Pada pertengahan 2000-an, terjadi pergeseran besar menuju Web 2.0 yang memperkenalkan model “baca-dan-tulis” seperti yang kita jumpai di internet masa kini. Evolusi ini memungkinkan pengguna berpartisipasi aktif dalam penciptaan konten melalui platform seperti Reddit, YouTube, dan Amazon. Media sosial menjadi kekuatan utama, membuat pengguna bisa berkomentar, berbagi, dan membuat konten sendiri. Namun, interaktivitas ini membawa konsekuensi: perusahaan teknologi besar memiliki kontrol dan kepemilikan atas seluruh konten pengguna (User Generated Content/UGC) di platform mereka. Model pendapatan mereka berbasis iklan, di mana Alphabet (Google) dan Meta (Facebook) menghasilkan sekitar 80-90% pendapatan tahunannya dari periklanan online.
Web3 atau Web 3.0 muncul akhir 2000-an, terinspirasi oleh teknologi blockchain yang mendasari cryptocurrency seperti Bitcoin. Diluncurkan pada 2009 oleh Satoshi Nakamoto, Bitcoin membuktikan potensi sistem terdesentralisasi melalui mekanisme peer-to-peer dan buku besar publik tanpa server pusat. Inovasi ini mendorong para pengembang untuk membayangkan ulang sentralisasi Web2. Pada 2015, Vitalik Buterin dan timnya meluncurkan Ethereum yang memperkenalkan “smart contract”—program otonom yang menjalankan perintah tanpa pengawasan terpusat. Gavin Wood, pendiri Polkadot, menciptakan istilah “Web3” untuk menggambarkan peralihan menuju internet terdesentralisasi ini. Gerakan Web3 bertujuan mengubah model “read-write” menjadi “read-write-own”, di mana pengguna memiliki kontrol penuh atas konten dan identitas digitalnya.
Perbedaan inti antara Web2 dan Web3 terletak pada filosofi arsitektur dan struktur tata kelolanya, mencerminkan perubahan mendasar dalam cara kerja serta pengelolaan internet.
Web2 dijalankan oleh struktur korporasi terpusat, di mana perusahaan teknologi besar menguasai server, penyimpanan data, dan tata kelola platform. Pengguna mengakses layanan dengan membuat akun, sementara perusahaan mengelola seluruh data dan konten pengguna. Kewenangan tertinggi ada di tangan eksekutif dan pemegang saham, sedangkan peran pengguna dalam kebijakan atau arah pengembangan platform sangat terbatas. Model terpusat ini telah mendominasi internet hampir dua dekade, menawarkan kenyamanan namun mengorbankan kemandirian pengguna.
Sebaliknya, Web3 menggunakan jaringan node (komputer) terdesentralisasi sebagai infrastruktur utama, sehingga tidak lagi membutuhkan kontrol korporasi terpusat. Pengguna bisa mengakses puluhan layanan online hanya dengan cryptocurrency wallet dan tetap memiliki hak kepemilikan penuh atas konten digital mereka. Banyak aplikasi Web3 (dApp) menggunakan tata kelola Decentralized Autonomous Organization (DAO), yang memberi hak suara kepada siapa saja yang memegang token governance. Mekanisme demokratis ini sangat berbeda dengan pola top-down Web2, karena kekuasaan didistribusikan ke komunitas pengguna, bukan terkonsentrasi dalam hierarki perusahaan.
Perbedaan ini berdampak langsung pada cara pengguna berinteraksi dengan platform, mengelola data, dan ikut serta dalam tata kelola platform. Pengguna Web2 menukar kenyamanan dan layanan gratis dengan pengawasan dan monetisasi data oleh korporasi, sedangkan pengguna Web3 memperoleh kemandirian dan kepemilikan dengan tantangan tambahan berupa kompleksitas dan biaya transaksi. Memahami perbedaan Web2 dan Web3 sangat penting bagi siapa pun yang ingin mengambil keputusan cerdas di era digital yang terus berubah.
Web2 dan Web3 memiliki keunggulan dan tantangan unik yang perlu dipertimbangkan pengguna dan pengembang saat menentukan pengalaman dan pilihan digital mereka.
Kelebihan Web2:
Struktur terpusat Web2 memudahkan skalabilitas dan mempercepat proses pengambilan keputusan. Pimpinan korporat dapat merancang dan mengeksekusi strategi pertumbuhan tanpa menunggu konsensus komunitas, sehingga adaptasi pasar dan ekspansi dapat dilakukan dengan cepat. Antarmuka pengguna Web2 sangat sederhana dan nyaman, berkat kemajuan JavaScript yang menghadirkan navigasi intuitif, tombol jelas, tab pencarian, dan proses login mudah. Bahkan pengguna awam dapat mengakses situs seperti Amazon, Facebook, dan Google tanpa hambatan. Di samping itu, server terpusat memungkinkan throughput data cepat dan penyelesaian sengketa yang efisien, sehingga menjadi otoritas utama saat terjadi konflik jaringan.
Kekurangan Web2:
Namun, dominasi perusahaan teknologi besar di Web2 memunculkan isu privasi serius. Alphabet, Meta, dan Amazon mengendalikan lebih dari 50% lalu lintas online, sehingga muncul kekhawatiran luas soal pengelolaan data pribadi pengguna. Survei menunjukkan mayoritas pengguna menilai perusahaan ini terlalu berkuasa dan khawatir pada praktik pengawasan data. Model server terpusat juga menciptakan satu titik kegagalan; ketika layanan cloud utama bermasalah, banyak situs yang bergantung padanya ikut offline. Selain itu, meskipun pengguna dapat membuat konten di platform Web2, mereka tidak memiliki kepemilikan penuh atas data digitalnya, dan perusahaan tetap mengambil persentase pendapatan dari UGC.
Kelebihan Web3:
Web3 menawarkan solusi atas banyak kekurangan Web2 melalui privasi yang lebih baik, hak kepemilikan, dan ketahanan terhadap sensor. Sifat terdesentralisasi dan transparan dApp Web3 memberikan kendali lebih besar atas konten dan identitas digital, tanpa perantara yang memonetisasi atau menyensor aktivitas. Pengguna cukup memiliki cryptocurrency wallet untuk mengakses dApps tanpa harus menyerahkan data pribadi. Arsitektur node terdistribusi menghilangkan titik kegagalan terpusat—jika satu node di blockchain seperti Ethereum offline, sistem tetap berjalan normal. Blockchain dengan ribuan node memastikan desentralisasi tetap kuat tanpa server utama yang bisa memberhentikan seluruh jaringan. Selain itu, DAO menyediakan tata kelola terdesentralisasi, di mana pemegang token governance dapat memilih upgrade dan perubahan protokol, mewujudkan esensi utama Web3.
Kekurangan Web3:
Walau demikian, Web3 menghadapi tantangan besar. Teknologi ini menuntut pengetahuan lebih bagi pengguna baru yang belum terbiasa dengan wallet digital dan cryptocurrency. Antarmuka Web3 memang terus berkembang, namun dApp masih kurang intuitif dibandingkan situs Web2, sehingga butuh pembelajaran dan latihan untuk memahami pengaturan wallet, transfer aset, dan koneksi dApp. Web3 juga bisa mahal, karena pengguna harus membayar gas fee untuk transaksi di blockchain tertentu. Meskipun beberapa blockchain dan layer-2 menawarkan biaya sangat rendah, hal ini tetap bisa menjadi hambatan bagi mereka yang tidak melihat manfaat desentralisasi. Terakhir, struktur demokratis DAO, meski adil, menyulitkan pengambilan keputusan cepat. Proses voting komunitas sebelum implementasi proposal sering memperlambat pengembangan dan penyelesaian sengketa, berbeda dengan efisiensi top-down Web2.
Memulai perjalanan di ekosistem Web3 hanya memerlukan beberapa langkah sederhana, meski teknologinya terus berkembang.
Langkah awal adalah mengunduh cryptocurrency wallet yang kompatibel dengan blockchain pilihan. Jika ingin mencoba dApp berbasis Ethereum, Anda memerlukan wallet seperti MetaMask atau wallet dari platform crypto utama. Untuk ekosistem Solana, gunakan wallet seperti Phantom. Setiap blockchain biasanya mendukung berbagai opsi wallet, sehingga pengguna bisa memilih berdasarkan aspek keamanan, fitur, dan kemudahan penggunaan. Wallet ini adalah pintu masuk ke dunia Web3, menggantikan login tradisional di Web2.
Setelah wallet siap, proses koneksi ke dApp Web3 mirip dengan login ke situs Web2. Umumnya, dApp memiliki tombol “Connect Wallet” yang terletak di pojok kanan atas. Pengguna tinggal klik, pilih wallet yang diinginkan, lalu konfirmasi koneksi. Proses ini memberi izin dApp untuk berinteraksi dengan wallet Anda dalam transaksi dan autentikasi, tanpa memerlukan kredensial atau data pribadi tradisional. Konektivitas tanpa akun ini adalah inovasi utama Web3 yang membedakannya dari Web2.
Bagi pengguna baru yang ingin menjelajahi Web3, platform seperti dAppRadar dan DeFiLlama menyediakan direktori lengkap dApp terpopuler di berbagai blockchain. Sumber ini memungkinkan pengguna menyaring jaringan dan kategori seperti Web3 gaming, NFT marketplace, serta decentralized finance (DeFi). Dengan menjelajahi daftar tersebut, pengguna dapat menemukan protokol Web3 yang sesuai minat dan langsung merasakan web terdesentralisasi, serta memahami secara nyata perbedaan pengalamannya dengan Web2.
Transformasi dari Web1 (hanya baca), Web2 (baca-tulis), hingga Web3 (baca-tulis-miliki) menandai perubahan mendasar arsitektur internet dan pemberdayaan pengguna. Web2 menghadirkan konektivitas dan partisipasi pengguna melalui sentralisasi, namun kekhawatiran terhadap privasi, kepemilikan data, dan dominasi korporasi mendorong munculnya alternatif terdesentralisasi Web3.
Peralihan dari Web2 ke Web3 menawarkan privasi lebih baik, kepemilikan digital sejati, dan platform tahan sensor melalui blockchain serta tata kelola terdesentralisasi. Namun, semua keunggulan itu dibarengi tantangan seperti kurva belajar yang lebih curam, biaya transaksi, dan laju pengembangan yang lebih lambat daripada efisiensi Web2. Dalam perkembangannya, tarik-ulur antara kenyamanan Web2 dan otonomi Web3 akan terus membentuk masa depan internet.
Pada akhirnya, keberhasilan Web3 bergantung pada kemampuan pengembang meningkatkan pengalaman pengguna tanpa meninggalkan prinsip desentralisasi. Kini, Web2 dan Web3 berjalan berdampingan, melayani kebutuhan dan preferensi pengguna yang berbeda. Memahami kelebihan dan keterbatasan masing-masing memungkinkan pengguna menentukan platform yang paling sesuai dengan kebutuhan privasi, kepemilikan, dan kemudahan akses di era digital. Ke depan, perbedaan antara Web2 dan Web3 tetap menjadi pengetahuan kunci bagi siapa pun yang ingin menavigasi dan berkembang dalam lanskap digital yang terus berubah.
Web2 adalah internet terpusat yang dikuasai platform besar, sedangkan Web3 adalah generasi berikutnya yang menggunakan blockchain untuk membangun jaringan terdesentralisasi, sehingga pengguna memiliki data dan aset mereka sendiri secara langsung.
Web1 adalah situs statis yang hanya bisa dibaca. Web2 memungkinkan pengguna membuat dan berbagi konten di platform terpusat. Web3 menggabungkan akses, penciptaan, dan kepemilikan pengguna lewat teknologi blockchain terdesentralisasi, sehingga pengguna memegang kendali atas data dan asetnya.
Saat ini kita sedang bertransisi menuju Web3. Web3 mengutamakan desentralisasi, blockchain, dan kepemilikan data oleh pengguna. Meskipun Web2 masih dominan, infrastruktur Web3 berkembang pesat dan mulai mengubah dunia digital.
Web2 terpusat dan dikendalikan korporasi. Web3 terdesentralisasi dan berbasis blockchain, memberi pengguna kendali serta kepemilikan. Web4 masih bersifat konseptual, menggabungkan AI dan desentralisasi untuk menciptakan sistem otonom cerdas.











