

Pergeseran kebijakan moneter Federal Reserve menjadi lebih akomodatif pada 2025 menciptakan iklim yang mendukung investasi kripto. Dengan ekspektasi suku bunga yang melandai dan kekhawatiran inflasi yang berkurang, investor mulai memindahkan modal dari aset pendapatan tetap tradisional ke alternatif berimbal hasil tinggi seperti aset digital.
Perubahan kebijakan dovish ini membawa dampak signifikan pada valuasi kripto. Sejarah menunjukkan bahwa pelonggaran moneter kerap diikuti apresiasi aset berisiko. Pasar kripto, yang sangat peka terhadap kondisi likuiditas, merespons positif terhadap sinyal kebijakan tersebut.
Proyek baru seperti Belong (LONG) memperlihatkan dinamika ini. Token ini diperdagangkan di harga $0,01159 dengan volume 24 jam sebesar $633.592, mencerminkan perubahan sentimen pasar secara umum. Dengan jaringan afiliasi berbasis AI yang menghubungkan tempat fisik dan pelanggan melalui otomasi blockchain, proyek ini berada di sektor infrastruktur Web3 yang berkembang, didukung minat institusional yang meningkat.
Sikap dovish menurunkan biaya pinjaman dan memperbesar daya tarik investasi spekulatif. Suku bunga dana federal yang rendah mendorong pencarian imbal hasil, sehingga likuiditas mengalir ke pasar kripto. Selama bank sentral tetap akomodatif, pelaku pasar mengantisipasi apresiasi harga berkelanjutan di berbagai kelas aset, terutama yang menawarkan inovasi teknologi dan integrasi utilitas nyata seperti platform terdesentralisasi untuk perdagangan dan verifikasi.
Dengan inflasi stabil di tingkat 2,8%, investor semakin memilih Bitcoin sebagai strategi investasi defensif. Inflasi yang moderat namun konsisten mengurangi daya beli mata uang fiat, sehingga manajer portofolio dan investor individu mencari aset alternatif dengan pasokan terbatas.
Pasokan maksimum Bitcoin yang hanya 21 juta koin menjadikannya instrumen lindung nilai inflasi yang efektif dibandingkan aset tradisional. Rekam jejak historis menegaskan korelasi tersebut, di mana Bitcoin tetap tangguh saat tekanan harga meningkat. Sifat desentralisasi dan kelangkaan pasokan Bitcoin menjadi penghalang alami terhadap devaluasi moneter.
Data pasar terbaru menunjukkan meningkatnya minat institusional pada Bitcoin di tengah kekhawatiran inflasi yang berlanjut. Indeks volatilitas di angka 13 saat ini mencerminkan sentimen ketakutan ekstrem di kalangan investor yang mencari stabilitas. Aset alternatif seperti Belong (LONG) mulai muncul di ekosistem blockchain, tetapi Bitcoin tetap menjadi pilihan utama untuk perlindungan inflasi berkat posisi pasar yang kuat dan rekam jejak terpercaya.
Investor yang mengalokasikan dana ke Bitcoin di masa inflasi umumnya memandang aset ini sebagai diversifikasi portofolio di luar saham dan obligasi. Pergeseran ini menandai perubahan sikap terhadap mata uang terdesentralisasi sebagai instrumen lindung nilai yang sah dalam strategi portofolio modern.
Lonjakan 15% terbaru pada S&P 500 menunjukkan korelasi kuat dengan pergerakan pasar kripto, terutama aset digital mapan. Sinkronisasi pasar ini menandakan integrasi kripto yang makin mendalam ke portofolio keuangan tradisional dan strategi investasi institusional.
Token baru seperti Belong (LONG) mencerminkan dinamika pasar yang lebih luas, meski dengan karakteristik kinerja tersendiri. Saat ini diperdagangkan di $0,01159, Belong mengalami volatilitas besar—turun 61,71% dalam tujuh hari namun tetap memiliki kapitalisasi pasar sekitar $8,69 juta. Volume perdagangan 24 jam sebesar $633.592 menunjukkan aktivitas pasar yang tinggi di tengah tekanan harga.
| Metrik | Nilai |
|---|---|
| Harga Saat Ini | $0,01159 |
| Perubahan 24 Jam | -1,86% |
| Perubahan 7 Hari | -61,71% |
| Kapitalisasi Pasar | $8,69Juta |
| Volume 24 Jam | $633.592 |
| Harga Tertinggi Sepanjang Masa | $0,0946 |
Perbedaan antara indeks mapan dan token baru menyoroti dampak pergeseran makroekonomi yang tidak merata pada segmen pasar. Sementara saham tradisional mendapatkan keuntungan dari kepercayaan investor dan optimisme ekonomi yang mendorong S&P 500 naik, altcoin menghadapi tekanan dari kondisi likuiditas dan sentimen spekulatif. Pola korelasi ini menunjukkan pasar kripto tetap responsif terhadap indikator ekonomi global, namun tetap memiliki volatilitas khas yang membedakannya dari pasar ekuitas tradisional, membuka peluang sekaligus risiko bagi investor yang melakukan diversifikasi.











