

Bitcoin halving merupakan peristiwa terjadwal di mana laju penerbitan Bitcoin baru berkurang sesuai protokol yang telah ditetapkan. Sekitar setiap empat tahun, jumlah Bitcoin baru yang dicetak akan berkurang setengahnya. Mekanisme ini adalah bagian inti dari Bitcoin sejak awal, berfungsi sebagai pengendali inflasi dan pengelola pasokan secara bertahap.
Bitcoin beredar melalui proses validasi dan pencatatan kelompok transaksi yang dikenal sebagai mining. Penambang yang berhasil menambahkan blok baru ke blockchain akan memperoleh Bitcoin sebagai imbalan.
Halving secara otomatis memangkas imbalan blok sebesar 50% pada interval tertentu. Secara khusus, setelah sekitar 210.000 blok berhasil ditambang, imbalan akan berkurang setengahnya. Siklus ini berulang kira-kira setiap empat tahun.
Pengurangan ini telah tertanam secara permanen dalam protokol Bitcoin dan berlangsung tanpa campur tangan manusia. Pada awalnya, imbalan blok sangat besar, namun setiap kali halving terjadi, laju penerbitannya semakin menurun. Contohnya, halving pertama tahun 2012 menurunkan imbalan dari 50 BTC menjadi 25 BTC. Halving kedua pada 2016 memangkasnya menjadi 12,5 BTC, dan halving selanjutnya terus melanjutkan tren penurunan ini.
Halving dirancang untuk mencegah kelebihan pasokan. Penurunan laju penerbitan Bitcoin menjaga nilainya dari risiko dilusi secara tiba-tiba.
Pasokan maksimal Bitcoin dibatasi hanya 21 juta koin. Tidak ada koin tambahan yang akan tercipta melampaui batas tersebut. Halving memastikan distribusi di mana lebih banyak koin dilepas di awal, dan semakin sedikit koin baru yang diterbitkan seiring waktu.
Seiring berjalannya waktu, jumlah Bitcoin baru yang beredar semakin sedikit. Sistem ini beroperasi secara disiplin sesuai aturan asli, tanpa otoritas pusat atau perubahan kebijakan sepihak. Dengan desain seperti ini, Bitcoin mempertahankan kelangkaan dan membangun dasar nilai jangka panjang yang stabil.
Bitcoin telah mengalami lima kali halving hingga saat ini, dan tiap peristiwa memberikan dampak berbeda pada pasar.
Halving Pertama (2012): Imbalan blok turun dari 50 BTC menjadi 25 BTC. Harga Bitcoin waktu itu sekitar $12, kemudian melonjak selama beberapa bulan hingga setahun ke depan. Ukuran pasar yang masih kecil membuat pengurangan pasokan sangat berpengaruh.
Halving Kedua (2016): Imbalan turun dari 25 BTC menjadi 12,5 BTC. Harga bergerak di kisaran $650 dan menunjukkan tren kenaikan kuat pada tahun berikutnya. Periode ini juga ditandai dengan meningkatnya eksposur dan minat institusi terhadap Bitcoin.
Halving Ketiga (2020): Imbalan berkurang dari 12,5 BTC menjadi 6,25 BTC. Harga saat itu sekitar $8.800, dan setelah 18 bulan, Bitcoin mencatat rekor harga baru, bersamaan dengan melonjaknya minat dunia pada aset digital.
Halving Keempat (2024): Imbalan turun dari 6,25 BTC menjadi 3,125 BTC. Pada periode itu, Bitcoin diperdagangkan sekitar $63.000—menandakan besarnya skala pasar saat ini.
Halving Kelima (2028, diperkirakan): Antusiasme terhadap halving berikutnya terus meningkat seiring mendekatnya siklus baru.
Secara historis, harga Bitcoin sering naik pasca-halving. Meski demikian, harga Bitcoin ditentukan oleh banyak faktor selain halving. Likuiditas pasar, dinamika ekonomi global, suku bunga, perubahan regulasi, sentimen investor, serta volume perdagangan, semuanya turut memengaruhi pergerakan harga.
Halving tidak hanya memengaruhi harga, tetapi juga pelaku pasar dan ekosistem kripto secara menyeluruh.
Saat halving terjadi, imbalan mining langsung dipotong setengahnya, sehingga pendapatan penambang berkurang drastis. Di wilayah dengan biaya listrik atau perangkat keras tinggi, mining bisa jadi tidak lagi menguntungkan sehingga sebagian operator keluar dari industri pada masa halving.
Seiring waktu, pasar akan menyeimbangkan diri. Kenaikan harga atau penggunaan perangkat keras yang lebih efisien dapat mengembalikan profitabilitas. Proses halving mengubah lanskap mining, mendorong operator yang efisien dan kompetitif, sekaligus memperkuat stabilitas jaringan secara keseluruhan.
Sebagai aset digital utama, halving Bitcoin selalu menjadi sorotan di pasar kripto. Pergerakan harga Bitcoin kerap memicu arus modal masuk ke aset kripto lainnya.
Respons pasar bergantung pada tingkat kematangan pasar dan sentimen investor. Di masa bullish, optimisme dan antisipasi terhadap halving meningkat, sedangkan pada periode tak menentu, kehati-hatian lebih dominan. Siklus volatilitas biasanya berkutat di sekitar peristiwa halving, sehingga pemahaman terhadap dinamika ini menjadi krusial bagi pelaku pasar.
Halving memperlambat laju masuknya Bitcoin baru ke pasar. Jika permintaan tetap atau meningkat sementara pertumbuhan pasokan dibatasi, keseimbangan pasokan dan permintaan akan bergeser.
Pergeseran ini dapat berdampak pada harga dan perilaku pasar. Secara teori, berkurangnya pasokan dengan permintaan stabil meningkatkan kelangkaan dan mendorong harga naik. Namun, permintaan juga dipengaruhi faktor lain di luar halving—seperti kondisi makroekonomi, lingkungan regulasi, inovasi teknologi, dan persaingan dari aset digital lain. Persamaan pasokan dan permintaan di pasar sangat kompleks dan multidimensional.
Bitcoin halving adalah protokol kunci untuk menyesuaikan laju penerbitan Bitcoin. Sekitar setiap empat tahun, jumlah Bitcoin baru yang dicetak berkurang setengahnya, sehingga pertumbuhan pasokan melambat dari waktu ke waktu.
Pergerakan harga signifikan kerap terjadi setelah halving sebelumnya, namun halving bukan satu-satunya penentu harga. Kondisi pasar, likuiditas, psikologi investor, dan faktor lain turut memengaruhi fluktuasi harga.
Halving lebih berfungsi sebagai tolok ukur untuk memahami aturan dasar Bitcoin daripada sekadar sinyal harga. Peristiwa halving akan terus berlangsung secara teratur dan menjadi pusat perhatian di setiap siklus. Prinsip dasarnya tetap konsisten, sehingga pemahaman terhadap mekanisme dan konteksnya sangat penting untuk keberhasilan investasi kripto.
Bitcoin halving adalah peristiwa berulang—sekitar setiap empat tahun—di mana imbalan blok penambang dipotong setengah. Hal ini membatasi pertumbuhan pasokan, mempertinggi kelangkaan, dan memberikan tekanan kenaikan harga dalam jangka panjang.
Imbalan untuk penambang berkurang 50% setiap kali halving. Dengan semakin sedikit koin baru yang beredar dan tingkat kelangkaan yang meningkat, harga biasanya cenderung naik seiring waktu. Keamanan jaringan dan aktivitas transaksi tetap stabil.
Halving Bitcoin berikutnya diperkirakan sekitar tahun 2028. Untuk 2025, tren pasar bullish kemungkinan berlanjut, dengan potensi harga puncak pada akhir 2025 atau awal 2026.
Dengan mempertimbangkan kondisi pasar saat ini dan siklus halving, harga Bitcoin dapat berada di rentang $80.000 hingga $120.000 pada 2026. Namun, volatilitas yang signifikan tetap mungkin terjadi akibat perubahan regulasi dan pergerakan investor institusi.
Halving Bitcoin memangkas pasokan baru sebesar 50%, sehingga meningkatkan kelangkaan. Jika permintaan tetap stabil, penurunan pasokan biasanya mendorong harga naik. Halving sebelumnya secara konsisten menghasilkan tren harga naik.
Setelah halving sebelumnya, harga Bitcoin mengalami kenaikan signifikan. Pada 2012 dan 2016, harga Bitcoin melonjak dalam bulan dan tahun setelah halving. Halving 2020 juga memperlihatkan kenaikan serupa. Penurunan pasokan dan peningkatan kelangkaan cenderung mendorong harga naik.
Bitcoin halving berlangsung sekitar setiap empat tahun—setiap 210.000 blok ditambang. Halving terakhir terjadi pada April 2024, dan berikutnya diproyeksikan pada 2028.











