

Inflasi merupakan konsep ekonomi yang sangat penting, berdampak pada mata uang tradisional maupun digital. Seiring cryptocurrency semakin dikenal luas, memahami bagaimana inflasi memengaruhi aset digital, khususnya aset terkemuka, menjadi semakin relevan. Artikel ini membahas hubungan antara inflasi dan cryptocurrency, dengan penekanan pada posisi unik aset utama di ekosistem finansial.
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam jangka waktu tertentu yang menyebabkan daya beli mata uang menurun. Bank sentral biasanya berupaya menjaga keseimbangan inflasi dan menghindari deflasi demi stabilitas ekonomi. Ketika inflasi naik, setiap unit mata uang menjadi kurang bernilai, sehingga memengaruhi biaya hidup, pertumbuhan ekonomi, dan tabungan individu.
Cryptocurrency memang bisa mengalami inflasi, tetapi mekanismenya berbeda dengan mata uang tradisional. Sifat inflasi atau deflasi dari suatu cryptocurrency ditentukan oleh mekanisme suplai, permintaan, dan tingkat adopsi pasar. Tidak seperti fiat yang dikendalikan bank sentral, cryptocurrency beroperasi dalam sistem terdesentralisasi.
Beberapa cryptocurrency, khususnya altcoin dan token, tidak memiliki suplai maksimum yang tetap, sehingga berpotensi menyebabkan inflasi. Sementara aset digital utama memiliki batas suplai, sehingga cenderung deflasi. Mengetahui apakah suatu cryptocurrency bersifat inflasi atau deflasi sangat penting bagi trader dan investor dalam pengambilan keputusan.
Inflasi di ekonomi tradisional sangat memengaruhi daya tarik cryptocurrency. Tingkat inflasi fiat yang tinggi mendorong individu dan investor memilih cryptocurrency sebagai alternatif penyimpan nilai. Cryptocurrency dengan suplai terbatas atau mekanisme deflasi semakin diminati saat inflasi tinggi.
Ketidakpastian ekonomi dan melemahnya kepercayaan terhadap sistem keuangan konvensional juga mempercepat adopsi cryptocurrency. Banyak orang memilih cryptocurrency untuk menjaga kekayaan dan transaksi di lingkungan yang lebih stabil. Permintaan yang meningkat dapat mendongkrak nilai cryptocurrency dan memperkuat posisinya sebagai investasi alternatif.
Berbeda dengan anggapan tersebut, cryptocurrency terkemuka umumnya dipandang sebagai aset deflasi berkat fitur desain berikut:
Namun, cryptocurrency tetap mengalami inflasi jangka pendek selama proses mining berlangsung hingga suplai maksimum tercapai. Nilainya juga dipengaruhi dinamika pasar dan investasi spekulatif, sehingga fluktuasi harga tetap dapat terjadi di luar faktor suplai.
Beberapa cryptocurrency memiliki suplai tetap dan kelangkaan yang dijamin oleh blockchain, sehingga relatif tahan terhadap inflasi fiat. Namun, cryptocurrency tidak sepenuhnya kebal inflasi karena nilainya dipengaruhi berbagai faktor seperti permintaan, sentimen pasar, dan situasi ekonomi eksternal.
Cryptocurrency tertentu terbukti cukup tangguh pada periode inflasi fiat, namun harganya tetap fluktuatif mengikuti dinamika pasar. Oleh sebab itu, meski menawarkan perlindungan inflasi, cryptocurrency tetap terkena risiko pasar dan perlu dipertimbangkan sebagai aset spekulatif.
Saat terjadi perlambatan ekonomi, perilaku cryptocurrency menjadi kompleks dan sulit diprediksi. Sebagai aset terdesentralisasi yang beroperasi tanpa perantara, cryptocurrency menarik minat sebagai investasi tahan resesi. Namun, kinerjanya saat resesi dipengaruhi beberapa aspek:
Secara historis, respon cryptocurrency terhadap resesi beragam sehingga pergerakannya sulit dipastikan saat ekonomi menurun.
Memahami hubungan inflasi dan cryptocurrency menjadi sangat penting di era keuangan yang terus berubah. Meski fitur deflasi dan suplai terbatas pada beberapa cryptocurrency menawarkan keunggulan di masa inflasi tinggi, cryptocurrency tetap rentan terhadap dinamika pasar dan penurunan ekonomi. Sejalan dengan perkembangan pasar, investor dan penggemar perlu mempertimbangkan karakter unik aset digital dan faktor ekonomi luas saat menilai potensi cryptocurrency sebagai investasi atau lindung nilai inflasi.
Tidak, crypto umumnya tidak berkontribusi pada inflasi. Crypto justru sering dipandang sebagai lindung nilai inflasi karena suplai terbatas dan sifat terdesentralisasi.
Jika Anda berinvestasi $1.000 di Bitcoin lima tahun lalu (2020), investasi tersebut saat ini bernilai sekitar $15.000, dengan asumsi tren pertumbuhan harga Bitcoin terus berlangsung.
Warren Buffett menyebut Bitcoin sebagai 'racun tikus kuadrat' dan 'alat perjudian', menegaskan keraguannya terhadap nilai dan manfaat Bitcoin sebagai investasi.











