

Non-Fungible Token (NFT) adalah produk blockchain yang, berkat sifatnya yang tidak dapat dipertukarkan dan terdesentralisasi, dapat merepresentasikan kepemilikan unik atas suatu aset, seperti kepemilikan sebidang tanah di metaverse atau karya seni seperti Cryptopunk.
Pada tahun 2021, NFT mengalami lonjakan popularitas dengan sejumlah peristiwa besar yang berhasil: The Bored Ape Yacht Club mencapai harga minimum 100 ETH, The Phanta Bear buatan Jay Chou memuncaki daftar proyek NFT, dan banyak influencer serta artis ternama seperti Justin Bieber, Post Malone, dan Shaquille O'Neal pernah membagikan NFT milik mereka seperti BAYC dan Cryptopunks. Perusahaan besar seperti Adidas, Nike, dan Walmart berencana masuk ke metaverse melalui NFT, dan media arus utama telah mengakui NFT sebagai bukti keaslian dan kepemilikan aset digital yang kredibel.
Munculnya konsep seperti NFT games dan metaverse memastikan NFT akan terus mendorong gelombang inovasi baru dalam ekosistem blockchain.
Sebelum membahas Non-Fungible Token (NFT), penting untuk memahami konsep Fungible Token. Fungible Token (FT) adalah token yang dapat dipertukarkan dan dapat dibagi. Misalnya, jika Anda dan saya sama-sama memiliki satu Ethereum, tidak ada perbedaan nilai atau keunikan antar Ethereum tersebut.
Sebaliknya, NFT memiliki keunikan, tidak dapat dibagi, dan menggunakan teknologi blockchain seperti aset kripto lain semisal Bitcoin. NFT adalah entri yang tidak dapat dipalsukan pada buku besar blockchain, yang memungkinkan pencatatan kepemilikan atas aset digital asli di luar layanan atau basis data terpusat. Sebagai contoh, item gim, tiket, dan karya seni digital dapat dicetak sebagai NFT di blockchain, memberikan keunikan dan ketidakmampuan untuk diduplikasi pada aset-aset tersebut.
NFT masih tergolong teknologi baru dengan sejarah kurang dari satu dekade. Proyek NFT utama di blockchain adalah CryptoPunks di Ethereum, yang terdiri dari karya seni 8 bit dalam format 24×24 piksel. Konsep NFT sendiri menjadi populer sejak gim blockchain CryptoKitties diluncurkan pada 28 November 2017.
Penerapan NFT sangat luas, meliputi kepemilikan, gim, dan lainnya, di mana NFT dapat mewakili aset intelektual seperti lukisan, lagu, paten, film, atau foto. Dalam hal ini, keunikan NFT berperan seperti kantor paten yang mendaftarkan identitas unik untuk hak cipta dan pola pengenal.
Contohnya, NFT digunakan untuk peliharaan digital dalam gim, item senjata, atau kostum, seperti setiap kucing pada CryptoKitties yang memiliki identitas unik. Contoh lain adalah tokenisasi aset dunia nyata, yang memungkinkan aset keuangan tersebut diperdagangkan secara digital.
Selain itu, NFT juga dapat digunakan untuk pencatatan dan bukti identitas. Verifikasi identitas dan akta kelahiran melalui NFT dapat memberikan hasil yang akurat, dan jika disimpan di blockchain seperti Ethereum, akan mencegah penyalahgunaan dan pemalsuan.
Apa itu staking NFT dan bagaimana cara kerjanya? Staking NFT adalah proses mengunci NFT di sebuah platform atau protokol untuk mendapatkan reward dan hak istimewa lainnya. Dengan begitu, pemilik NFT dapat memperoleh pendapatan pasif tanpa kehilangan kepemilikan atas NFT tersebut.
Saat ini, staking NFT masih dalam tahap awal, namun mirip dengan praktik liquidity mining di keuangan terdesentralisasi (DeFi). Prinsipnya, setelah pengguna melakukan staking NFT di platform, reward yang diperoleh ditentukan oleh Annual Percentage Yield (APY), jangka waktu komitmen, dan jumlah NFT yang di-stake.
Karena NFT bersifat unik, investor dan kolektor cenderung memegangnya jangka panjang dan melakukan spekulasi, sementara staking NFT memberi mereka peluang penghasilan tambahan dari aset yang dimiliki. Staking NFT tidak jauh berbeda dengan staking Bitcoin (BTC) atau Ethereum (ETH). Anda hanya perlu dompet kripto untuk memulai, namun tidak semua NFT dapat di-stake untuk memperoleh reward.
Staking NFT adalah cara baru mendapatkan pendapatan pasif di dunia kripto. Pemilik dapat menerima reward dengan mengunci NFT di platform DeFi, hanya dengan mengunci tanpa harus menjual koleksi NFT mereka.
Di satu sisi, pemilik NFT setara dengan pemilik file digital lain yang bisa diduplikasi dan didistribusikan tanpa batas; di sisi lain, teknologi blockchain memungkinkan pemilik NFT membuktikan kepemilikan sebenarnya atas file tersebut, sehingga hak kepemilikan aset digital tetap terjaga.
Seperti liquidity mining di DeFi, staking NFT menggunakan mekanisme proof of stake (PoS) untuk memberikan reward kepada peserta. Karena total suplai NFT terbatas, hasil staking bisa signifikan. Dalam jangka panjang, staking NFT melampaui sekadar koleksi seni digital dan membuka peluang aplikasi baru.
Dalam beberapa tahun terakhir, mayoritas staking NFT dapat dilakukan di gim play-to-earn (P2E), seperti MOBOX dan Zookeeper. Beberapa proyek juga membangun fitur staking NFT sendiri di platform, misalnya Doge Capital.
Zookeeper (ZOO) adalah DApp liquidity mining yang memungkinkan NFT di-stake pada berbagai pool likuiditas. Semua pool Zookeeper mendukung mekanisme mining ganda, sehingga pengguna dapat memperoleh reward berupa token utilitas ZOO dan token WanSwap LP (WSLP). Untuk meningkatkan reward APY, pengguna dapat mengunci token hingga 180 hari. Selain itu, staking ZooBooster NFT memaksimalkan reward dan mempersingkat waktu penguncian WSLP. Kartu ZooBooster NFT dapat diperoleh dengan membeli gold chest di DApp atau dengan staking token ZOO.
Dengan NFT, kolektor dapat memperdagangkan karya seni secara bebas di sistem blockchain yang terbuka. Karya seni digital dan koleksi cenderung meningkat nilainya seiring waktu. Beberapa proyek NFT membagikan pendapatan dengan komunitas pemilik NFT, terutama dari penjualan pasar sekunder dan royalti.
Pertumbuhan pasar NFT terus berlanjut, di mana pengembang, seniman, dan kolektor aktif mengeksplorasi aplikasi baru untuk koleksi NFT mereka. Studi kasus terbaru adalah penggunaan NFT sebagai token utilitas pada platform staking. Misalnya, kolektor NFT melakukan staking dalam gim metaverse tertentu untuk meningkatkan skill karakter dan memperoleh reward tambahan.
NFT memberikan banyak manfaat bagi kreator, penjual, maupun pembeli, tergantung pada platform yang digunakan. Dalam NFT di Ethereum, smart contract bekerja secara otomatis: kode smart contract tidak dapat diubah setelah masuk blockchain, dan transaksi tidak dapat dibatalkan setelah kriteria terpenuhi dan diverifikasi. Hal ini memberikan perlindungan baik bagi kreator maupun pembeli.
Bagi kreator, teknologi blockchain dan NFT membuka peluang monetisasi karya tanpa perantara. Sebagai contoh, seniman tidak perlu lagi bergantung pada galeri atau balai lelang untuk menjual karya mereka. Mereka dapat menjual langsung ke konsumen dalam bentuk NFT, sehingga potensi keuntungan yang diterima lebih besar.
Bagi kolektor, NFT memungkinkan pembuktian kepemilikan di ranah digital. Sebelum NFT hadir, tidak ada cara membuktikan kepemilikan atau keaslian karya seni digital atau koleksi. Dengan NFT, investor kini memiliki hak kepemilikan nyata atas token non-fungible yang dibeli. Ini menciptakan nilai karena aset digital di-tokenisasi. NFT membuktikan keaslian dan kepemilikan, sehingga dapat dipercaya dan mudah dialihkan.
Setiap pasar memiliki risiko. Pasar NFT seperti seni digital dan koleksi tumbuh sangat cepat, namun hal itu tidak menjamin investasi selalu aman. Investasi NFT juga memiliki risiko sendiri. Pada dasarnya, teknologi ini masih baru. Terutama bagi investor pemula, pengalaman dalam menilai kinerja NFT masih terbatas. Dalam investasi aset virtual NFT, volatilitas pasar yang tinggi, likuiditas rendah, dan risiko penipuan adalah perhatian utama.
Penilaian NFT sangat bergantung pada keaslian, kreativitas, dan pemahaman pemilik serta pembeli. Saat ini, sentimen pasar dan permintaan menjadi pendorong utama harga NFT, bukan indikator fundamental, teknikal, atau ekonomi. Sebagian besar rencana terkait Metaverse masih dalam tahap awal, dan investasi riset serta pengembangan mungkin belum terwujud.
Selain itu, risiko kepemilikan intelektual juga perlu diperhatikan. Investor yang membeli NFT hanya memperoleh hak penggunaan NFT, bukan hak kekayaan intelektual. Oleh karena itu, dalam metadata smart contract, penting memahami hak kepemilikan individu atas NFT tertentu, seperti hak cipta, merek, paten, hak moral, dan hak publikasi.
Berinvestasi pada token yang terkait dengan konsep NFT adalah salah satu cara untuk memasuki pasar NFT. Token ini bukan NFT itu sendiri, melainkan token tata kelola asli atau token utilitas dari berbagai proyek NFT, atau token blockchain yang menjadi infrastruktur NFT seperti Ronin atau Tezos.
Saat ini setidaknya ada 100 koin terkait NFT, dengan kapitalisasi pasar 100 token NFT teratas di Coingecko mencapai USD 24,8 miliar. Strategi ini cocok bagi investor yang ingin ikut ekosistem NFT tanpa harus membeli aset NFT secara langsung.
Anda bisa langsung mendaftar atau membeli NFT di pasar primer maupun sekunder, seperti karya seni digital, koleksi, item gim, lahan virtual, dan lainnya. Sepuluh NFT teratas umumnya berfokus pada koleksi, gim, dan lahan virtual. Anda dapat bergabung dalam lelang pasar primer untuk koleksi seni besar atau memilih NFT favorit di platform sekunder seperti OpenSea atau LookingRare.
Hal yang perlu diperhatikan, investasi NFT membutuhkan keahlian menilai serta kemampuan menaksir nilai seni. Selain itu, Anda juga wajib mempertimbangkan dan mengevaluasi platform blockchain, kelangkaan, umur, kecepatan penerbitan, dan faktor lainnya.
Selain dua metode di atas, menerbitkan NFT sendiri juga merupakan cara untuk meraih keuntungan. Jika Anda ingin menerbitkan dan mencetak NFT, Anda dapat mengunggah file ke platform pencetakan NFT seperti OpenSea dan Rarible untuk melakukan mint dan menerbitkan NFT.
Saat ini banyak format dan jenis file yang didukung, seperti JPG, PNG, GIF, file musik MP3, file 3D GLB, dan lainnya. Kreator menyiapkan file, menghubungkan dompet ke platform, mengunggah file, serta mengatur deskripsi NFT, persentase royalti, dan informasi lain yang relevan. Cara ini efektif bagi seniman dan kreator untuk memperoleh penghasilan langsung dari karya mereka.
Kemampuan NFT dalam menyimpan data identitas dan kepemilikan di blockchain meningkatkan integritas dan privasi data, serta membuka aplikasi di berbagai bidang seperti kekayaan intelektual dan publikasi. Aset-aset ini dapat dialihkan dan dikelola secara efisien, yang pada akhirnya menurunkan biaya transaksi di berbagai sektor.
Sementara aset kripto utama seperti Bitcoin dan Ethereum juga dicatat di blockchain, NFT memiliki perbedaan mendasar: setiap token NFT tidak dapat dipertukarkan dan tidak dapat dibagi. Ke depan, NFT diproyeksikan menjadi komponen penting dalam ekonomi digital berbasis blockchain.
NFT adalah tokenisasi aset digital unik di blockchain. Berbeda dengan kripto biasa yang dapat dipertukarkan, NFT tidak dapat dipertukarkan dan merepresentasikan kepemilikan atas aset yang spesifik.
NFT merepresentasikan aset unik seperti seni digital, item gim, dan properti virtual. Aplikasi nyata meliputi perdagangan aset, verifikasi kepemilikan, dan monetisasi karya kreatif.
Untuk membeli dan menjual NFT, Anda memerlukan dompet kripto dan akun di marketplace NFT. Buat dompet, hubungkan ke marketplace, deposit kripto, lalu cari dan beli NFT yang diinginkan. Untuk menjual NFT, cukup daftarkan item Anda di marketplace.
NFT tidak sepenuhnya aman. Risiko utama meliputi: penipuan dan pemalsuan, akun diretas, harga sangat fluktuatif, dan risiko dari platform penyimpanan. Selalu verifikasi asal-usul NFT dan lindungi keamanan dompet pribadi Anda.
Nilai NFT ditentukan oleh keunikan, kelangkaan, permintaan pasar, dan nilai koleksi. NFT bisa sangat mahal karena merupakan aset digital unik, berpotensi menghasilkan keuntungan dari perdagangan, dan menarik minat komunitas investor.
NFT berbasis teknologi blockchain untuk menjamin keunikan dan kepemilikan setiap aset digital. Blockchain menyediakan infrastruktur yang aman dan terdesentralisasi untuk memverifikasi serta mencatat transaksi NFT secara transparan dan tidak dapat dipalsukan.











