
Pengukuran waktu telah mengalami evolusi besar sepanjang sejarah umat manusia. Dahulu, waktu ditentukan melalui observasi lokal, seperti posisi matahari, dan setiap kota memiliki waktu lokalnya sendiri. Sistem penentuan waktu yang terdesentralisasi ini cukup memadai saat interaksi antar kota sangat terbatas dan komunikasi dibatasi oleh kecepatan perjalanan fisik.
Kehadiran kereta api merevolusi paradigma tersebut. Saat transportasi dan perdagangan semakin cepat, waktu standar menjadi sangat penting untuk mengoordinasikan jadwal lintas wilayah yang luas. Pada 18 November 1883, perusahaan kereta api di Amerika menetapkan empat zona waktu guna menyeragamkan waktu di seluruh Amerika Serikat dan menegaskan prinsip utama: sinkronisasi waktu memungkinkan koordinasi yang efektif serta membangun kepercayaan pada sistem kompleks.
Pada sistem modern, komputer dan perangkat digital menjaga keakuratan waktu dengan berkala melakukan sinkronisasi ke jam pusat melalui jaringan internet. Namun, sentralisasi ini menimbulkan tantangan besar bagi sistem blockchain terdistribusi: bagaimana jaringan terdesentralisasi dapat membangun persepsi waktu yang andal tanpa bergantung pada otoritas pusat?
Blockchain programmable seperti Ethereum mengatasi keterbatasan ini dengan mengandalkan program eksternal untuk memberi median timestamp dalam validasi transaksi. Pendekatan ini justru bertentangan dengan semangat desentralisasi karena kembali menghadirkan referensi waktu terpusat. Solana menyelesaikan masalah ini dengan teknologi inovatif, Proof of History (PoH).
Proof of History memungkinkan blockchain menanamkan timestamp yang dapat diverifikasi langsung ke dalam struktur blockchain dengan menggunakan verifiable delay function (VDF). Anatoly Yakovenko, Co-Founder Solana Labs, menyatakan, "Setiap block producer harus menjalankan VDF, Proof of History, untuk mendapatkan slot yang ditetapkan dan memproduksi block." Proses ini dilakukan dengan menambahkan hash status sebelumnya secara berurutan, menciptakan rekaman yang tidak dapat diubah, di mana status, data input, dan jumlah perhitungan dapat diverifikasi secara publik serta tidak dapat direka ulang atau dimanipulasi.
Metode kriptografi ini menetapkan batas waktu atas dan bawah untuk setiap transaksi di ledger. Proof of History memang tidak menyediakan timestamp absolut seperti "12:02:01 PM," namun teknologi ini memberikan urutan kejadian yang presisi secara relatif dalam mesin status global blockchain. Block producer menjalankan proses ini secara lokal nyaris real-time dengan fungsi hash SHA256, yang telah dioptimalkan oleh sebagian besar produsen chip utama. Dengan demikian, ledger memiliki keunggulan penting: pengamat dapat mengidentifikasi waktu pasti terjadinya transaksi dengan menelusuri blockchain.
Keunggulan Proof of History secara praktis tampak saat melihat bagaimana timestamp presisi mempercepat validasi informasi dan pemrosesan transaksi. Contoh nyata dapat diambil dari logistik kereta api: sebuah surat penting dikirim dari New York dan melewati Philadelphia, Pittsburgh, dan Cleveland sebelum tiba di Chicago pada pukul 17.00. Tantangannya adalah memastikan surat tersebut asli di setiap stasiun dan berada di kereta yang tepat, bukan di jalur alternatif.
Pada sistem tanpa penjadwalan waktu standar (seperti blockchain tradisional), proses verifikasi sangat lambat dan membutuhkan banyak sumber daya. Petugas stasiun di setiap titik harus menghubungi petugas di stasiun lain: "Apakah kereta ini berhenti di Philadelphia?" "Chicago, apakah Anda menunggu kereta dari New York?" Tanpa penanda waktu pada surat, operator harus menghubungi otoritas jadwal pusat atau melakukan pencocokan silang yang rumit. Proses verifikasi ini bisa memakan waktu berjam-jam dengan kereta tetap berhenti, sehingga muncul inefisiensi berat.
Sebaliknya, dengan Proof of History seperti yang diterapkan pada layer-1 blockchain terdepan (analog dengan Solana Railroad), setiap stasiun memberikan cap waktu presisi pada surat. Saat kereta tiba di Cleveland, surat sudah memiliki cap dari New York, Philadelphia, dan Pittsburgh, sehingga jalur kereta dan waktu tiba di Chicago pukul 17.00 dapat dipastikan. Petugas stasiun dapat memverifikasi dan memproses surat dalam hitungan menit, bukan jam, sehingga throughput meningkat dan hambatan operasional berkurang drastis.
Pada blockchain yang menerapkan Proof of History, efisiensi ini menghasilkan keunggulan performa yang luar biasa. Node individual dapat memvalidasi seluruh blockchain dengan informasi minimal, bahkan saat terputus dari jaringan utama. Sistem tetap sangat tangguh: walaupun komputer beroperasi pada kecepatan berbeda, ASIC jaringan tetap sinkron dalam 30% parameter yang ditentukan. Yakovenko menjelaskan, "Setiap orang memiliki atomic clock lokal yang tersinkronisasi dan jam-jam ini tidak perlu diselaraskan ulang. Jadi walaupun komunikasi terputus, jam kami tidak pernah meleset karena sepenuhnya logis berkat SHA256."
Proof of History juga menghadirkan validasi paralel—fitur yang tidak tersedia di sebagian besar blockchain programmable lain. Blockchain tradisional memvalidasi secara berurutan dengan satu proses verifikasi per transaksi (mirip satu petugas stasiun memeriksa setiap surat), sedangkan jaringan dengan Proof of History memungkinkan banyak proses validasi berlangsung bersamaan. Banyak validator dapat memverifikasi transaksi berbeda secara simultan berdasarkan timestamp masing-masing, seperti banyak petugas stasiun memeriksa banyak surat secara paralel. Arsitektur ini membuat transaksi jauh lebih cepat dan throughput jaringan meningkat pesat.
Proof of History adalah inovasi penting dalam desain sistem terdistribusi, menyelesaikan persoalan mendasar dalam penjadwalan waktu terdesentralisasi yang dapat diverifikasi tanpa otoritas pusat. Dengan menanamkan timestamp kriptografi langsung ke blockchain melalui verifiable delay function, jaringan yang mengadopsi teknologi ini menciptakan rekam waktu yang tidak dapat diubah dan dapat diverifikasi secara independen oleh seluruh peserta. Pendekatan ini mengubah validasi blockchain dari proses berurutan yang lambat menjadi operasi paralel yang sangat meningkatkan performa dan skalabilitas. Teknologi ini membuktikan bahwa informasi waktu presisi bukan sekadar mempercepat transaksi, melainkan mendukung mekanisme koordinasi yang efisien di jaringan terdistribusi—menjawab tantangan desentralisasi dengan efisiensi operasional yang sebelumnya hanya mungkin pada standar waktu terpusat.
Contoh perjalanan kereta: surat yang dikirim dari New York mendapatkan cap waktu di setiap stasiun yang dilalui. Cap waktu berurutan ini membuktikan urutan kronologis dan keaslian surat tanpa perlu verifikasi eksternal.
PoW membutuhkan pemecahan puzzle kompleks untuk validasi, sehingga memerlukan daya komputasi besar. PoH menandai peristiwa dengan timestamp untuk menjaga integritas dan urutan blockchain. PoS memilih validator berdasarkan kepemilikan cryptocurrency, dengan kebutuhan energi lebih rendah.
Proof of Authority (PoA) merupakan mekanisme konsensus di mana validator dipilih berdasarkan reputasi dan identitas. Proof of Concept (PoC) menunjukkan kelayakan ide blockchain sebelum penerapan penuh. PoA mengatur operasi jaringan, sedangkan PoC memvalidasi konsep awal.
Kekurangan utama Proof of History antara lain kompleksitas implementasi tinggi, peningkatan overhead sistem, dan potensi latensi pada proses konsensus. Selain itu, teknologi ini membutuhkan sumber daya komputasi besar serta perangkat keras khusus untuk validasi.











