

Sam Bankman-Fried menempuh pendidikan di Massachusetts Institute of Technology dengan mengambil jurusan fisika dan matematika. Setelah lulus, ia memulai karier profesional di Wall Street melalui Jane Street Capital sebagai quantitative trader. Keahlian dalam high-frequency trading dan analisis pasar menjadi fondasi utama bagi langkahnya di industri kripto.
Pada 2017, Sam Bankman-Fried mendirikan Alameda Research, sebuah perusahaan perdagangan kripto kuantitatif. Perusahaan ini berkembang pesat, mengelola aset lebih dari $1 miliar dan mengeksekusi transaksi harian senilai total $1,5 miliar di ribuan produk cryptocurrency. Alameda Research muncul sebagai salah satu platform trading kuantitatif terdepan di sektor kripto, memanfaatkan algoritma dan strategi canggih untuk menyediakan likuiditas pasar.
Pada 2019, Sam Bankman-Fried mendirikan FTX, sebuah crypto exchange yang berfokus pada perdagangan derivatif dan futures. FTX dengan cepat menempati peringkat lima besar crypto exchange dunia berdasarkan volume perdagangan. Platform ini menawarkan produk keuangan inovatif, termasuk prediction markets, tokenized stocks, perpetual contracts, dan instrumen canggih lainnya. FTX berhasil memperoleh investasi besar dan menjadi simbol ambisi industri kripto.
Di bawah kepemimpinan Sam Bankman-Fried, FTX berperan besar dalam membentuk perkembangan pasar cryptocurrency. Perusahaan meluncurkan beragam produk dan layanan keuangan inovatif yang memperluas peluang perdagangan kripto. SBF juga menekankan pentingnya kepatuhan regulasi, sehingga meningkatkan kepercayaan pada platform dan mempersempit jarak antara aset digital dan keuangan tradisional.
Sam Bankman-Fried dikenal luas atas kegiatan filantropi dan dukungannya pada inisiatif sosial maupun ilmiah. Ia membangun citra sebagai filantropis yang ingin memanfaatkan kekayaannya untuk menghadapi tantangan global. Figur publiknya sangat lekat dengan effective altruism, dan ia aktif dalam kontribusi politik serta sponsor berbagai proyek.
Pada November 2022, FTX menghadapi krisis keuangan serius hingga akhirnya dinyatakan bangkrut. Investigasi menemukan bahwa dana pelanggan telah disalahgunakan untuk mendanai investasi berisiko melalui Alameda Research. Pada Desember 2022, otoritas menangkap Sam Bankman-Fried di Bahama atas tuduhan seperti penipuan, pencucian uang, serta kejahatan keuangan lainnya. Pada November 2023, pengadilan federal AS memvonisnya atas tujuh dakwaan, termasuk penipuan dan pencucian uang. Kasus ini menjadi salah satu skandal paling signifikan dalam sejarah industri kripto.
Kisah Sam Bankman-Fried dan FTX menjadi pelajaran penting bagi industri cryptocurrency dan juga pasar keuangan secara luas. Perjalanan dari trader Wall Street menjadi pemimpin industri kripto—dan kejatuhannya—menyoroti pentingnya regulasi yang kuat, transparansi, serta etika korporasi. Kasus SBF mendorong pengawasan regulasi yang lebih ketat terhadap industri kripto dan meningkatkan standar kepatuhan bagi platform aset digital.
Sam Bankman-Fried (SBF) adalah pengusaha dan miliarder asal Amerika Serikat. Ia mendirikan crypto exchange FTX serta perusahaan trading Alameda Research. SBF dikenal luas karena pengaruh besarnya di sektor kripto dan keterlibatan aktif dalam perkembangannya.
FTX runtuh akibat kegagalan keuangan dan krisis kepercayaan. SBF dituduh menyalahgunakan dana perusahaan, sehingga kepercayaan pasar cepat menghilang dan platform tersebut tumbang.
SBF didakwa menipu pelanggan dan kreditur FTX, pencucian uang, serta pelanggaran hukum pendanaan kampanye. Seluruh dakwaan diajukan oleh grand jury di Amerika Serikat.
Kehancuran FTX mengguncang kepercayaan pada pasar cryptocurrency, memicu penurunan tajam nilai Bitcoin dan aset lainnya, mempercepat dorongan regulasi lebih ketat, serta meningkatkan standar keamanan dan transparansi di seluruh sektor.
Dana yang hilang sebagian besar digunakan untuk biaya hukum dan pengeluaran lainnya, dengan sebagian telah berhasil dipulihkan. Sebagian dana diidentifikasi sebagai wire fraud. Nasib sebagian dana masih belum jelas.
SBF jatuh dari status miliarder menjadi terdakwa pidana setelah kehancuran FTX. Ia dinyatakan bersalah atas penyalahgunaan dana pelanggan dan dijatuhi hukuman 25 tahun penjara. Saat ini, ia masih mengajukan banding atas vonis tersebut dengan klaim bahwa persidangannya bermuatan politik.











