

Stagflation merupakan kondisi di mana suatu perekonomian mengalami tantangan besar: pertumbuhan ekonomi yang lambat atau penurunan aktivitas bisnis disertai dengan kenaikan harga (inflasi). Situasi ini mirip dengan mobil yang berjalan sangat pelan, sementara harga bahan bakar terus meningkat.
Bayangkan sebuah negara sedang menghadapi masa sulit, di mana pendapatan bisnis menurun dibandingkan sebelumnya. Masyarakat cenderung mengurangi pengeluaran, sehingga produksi barang dan penawaran pekerjaan ikut menurun. Dengan terbatasnya lapangan kerja, masyarakat semakin sulit mendapatkan pekerjaan, sehingga uang yang beredar di perekonomian pun semakin sedikit.
Istilah "stagflation" sendiri merupakan gabungan dari kata "stagnation" dan "inflation," yang mencerminkan sifat ganda dari fenomena ekonomi ini. Berbeda dari penurunan ekonomi biasanya yang cenderung menurunkan harga, stagflation justru menampilkan paradoks di mana harga naik meskipun aktivitas ekonomi melambat.
Inilah yang unik: Dalam situasi stagflation, harga barang dan jasa terus meningkat. Anda mungkin melihat harga kebutuhan pokok, bahan bakar, atau barang yang Anda beli secara online menjadi lebih mahal. Akibatnya, meski ekonomi tidak berkembang, daya beli uang yang Anda miliki menurun.
Kondisi ini sangat menyulitkan konsumen dan pembuat kebijakan. Konsumen menghadapi penurunan daya beli saat peluang penghasilan menyusut. Bisnis mengalami kenaikan biaya, namun tidak selalu mampu membebankan biaya tersebut kepada konsumen yang daya belinya turun. Dalam beberapa kasus, stagflation dapat memicu krisis keuangan yang lebih serius, berdampak pada berbagai sektor ekonomi sekaligus.
Lalu, apa pemicu stagflation? Tidak ada satu penyebab tunggal. Stagflation berasal dari faktor-faktor kompleks yang saling berinteraksi dan menciptakan tekanan ekonomi berat.
Sering kali, stagflation timbul akibat masalah pada peredaran uang. Kebijakan moneter seperti pencetakan uang berlebihan atau suku bunga rendah dalam jangka waktu lama dapat memicu inflasi, tetapi gagal mendorong pertumbuhan ekonomi riil.
Di sisi lain, stagflation juga bisa dipicu oleh lonjakan harga komoditas utama seperti minyak, yang dikenal sebagai supply shock. Ketika biaya input penting naik drastis, biaya produksi di banyak industri ikut naik. Bisnis kemudian menaikkan harga untuk menutupi kenaikan biaya, sehingga terjadi inflasi. Sementara itu, biaya yang lebih tinggi membuat bisnis mengurangi produksi dan melakukan PHK, sehingga pertumbuhan ekonomi terhambat.
Selain itu, masalah struktural seperti penurunan produktivitas, regulasi yang berlebihan, atau gangguan rantai pasok global dapat memicu stagflation. Faktor-faktor tersebut menurunkan kapasitas ekonomi untuk tumbuh, sekaligus meningkatkan tekanan kenaikan harga.
Stagflation sangat sulit diatasi. Ketika pertumbuhan ekonomi lemah dan harga terus naik, upaya tradisional untuk mendorong ekonomi biasanya kurang efektif. Kebijakan yang biasa digunakan untuk mengatasi inflasi atau resesi justru sering kali tidak berhasil, atau bahkan memperburuk keadaan ketika kedua masalah terjadi bersamaan.
Contohnya, penurunan suku bunga atau peningkatan belanja pemerintah tidak selalu efektif saat harga sudah tinggi. Penurunan suku bunga bisa mempercepat inflasi karena pinjaman menjadi lebih murah dan uang beredar lebih banyak. Sebaliknya, menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi dapat memperlambat ekonomi yang sudah stagnan, sehingga pengangguran meningkat dan investasi menurun.
Demikian pula, penambahan belanja pemerintah dapat meningkatkan inflasi, sementara pengurangan belanja untuk menurunkan inflasi bisa memperparah perlambatan ekonomi. Inilah dilema kebijakan, di mana alat ekonomi konvensional tidak cukup ampuh untuk mengatasi kedua masalah sekaligus.
Pemerintah dan ekonom harus merancang strategi cermat dalam menghadapi stagflation, dengan fokus pada kebijakan yang mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengendalikan kenaikan harga. Tantangannya mirip seperti berjalan di atas tali yang sangat tipis.
Beberapa pendekatan yang dapat diterapkan antara lain:
Kunci utama adalah mengatasi hambatan sisi penawaran yang mendorong inflasi dan kelemahan sisi permintaan yang menyebabkan stagnasi, tanpa memperburuk salah satu masalah.
Stagflation mulai dikenal luas pada tahun 1970-an, dan berdampak besar pada perekonomian global. Situasi unik dan membingungkan terjadi ketika inflasi tinggi berlangsung bersamaan dengan stagnasi ekonomi. Periode tersebut menjadi contoh paling menonjol stagflation serta memberikan pelajaran penting untuk memahami fenomena ini.
Lonjakan harga minyak, gangguan pasokan, dan kebijakan moneter yang longgar berperan penting dalam situasi tersebut. Krisis minyak tahun 1973 yang dipicu embargo OPEC menyebabkan harga minyak naik empat kali lipat, mengguncang perekonomian dunia. Supply shock ini meningkatkan biaya produksi di berbagai industri dan secara bersamaan menurunkan output ekonomi.
Pemerintah kesulitan menemukan solusi yang efektif, menandai masa yang sangat khas dalam sejarah ekonomi. Kebijakan ekonomi Keynesian yang sebelumnya berhasil tidak mampu mengatasi tantangan baru ini. Bank sentral dihadapkan pada pilihan sulit antara menekan inflasi atau mendukung lapangan kerja—sering kali kebijakan yang diterapkan untuk satu masalah justru memperburuk masalah lain.
Stagflation tahun 1970-an menjadi studi kasus yang menyoroti kompleksitas dan tantangan dalam mengelola inflasi dan stagnasi secara bersamaan. Periode tersebut mendorong perubahan besar dalam pemikiran ekonomi dan kebijakan, termasuk penekanan pada pengendalian ekspektasi inflasi dan pengembangan kerangka kebijakan moneter baru. Pelajaran dari masa itu masih relevan hingga kini, mengingatkan pembuat kebijakan akan pentingnya menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Stagflation merupakan gabungan inflasi tinggi dengan stagnasi ekonomi dan meningkatnya pengangguran. Berbeda dengan resesi yang ditandai penurunan harga dan permintaan, stagflation tetap mempertahankan inflasi tinggi meski pertumbuhan lambat, sehingga lebih sulit diatasi pembuat kebijakan.
Stagflation terjadi saat pertumbuhan ekonomi terhenti, namun inflasi meningkat secara bersamaan. Penyebab utama meliputi supply shock yang mengganggu produksi, kebijakan moneter longgar saat pasokan terbatas, ketegangan geopolitik yang membatasi sumber daya, dan dinamika spiral upah-harga. Faktor-faktor ini berpadu menciptakan inflasi persisten di tengah perlambatan ekonomi.
Stagflation menurunkan daya beli akibat kenaikan harga dan membatasi peluang kerja karena stagnasi ekonomi. Nilai tabungan berkurang, biaya kebutuhan pokok meningkat, dan pertumbuhan upah terhambat, sehingga anggaran rumah tangga semakin tertekan dan standar hidup menurun.
Krisis minyak tahun 1970-an menyebabkan stagflation di negara Barat dengan inflasi dan pengangguran tinggi. Krisis keuangan 2008 memicu kekhawatiran stagflation. Pada 2021-2023, tekanan stagflation global muncul akibat gangguan pandemi dan kenaikan biaya energi.
Pemerintah dan bank sentral dapat melawan stagflation melalui kebijakan moneter seimbang, reformasi sisi penawaran, disiplin fiskal, dan pengelolaan sumber daya strategis. Aset kripto seperti Stagflation token menawarkan lindung nilai inflasi, memungkinkan diversifikasi portofolio selama gejolak ekonomi dan menjaga daya beli.
Selama stagflation, lakukan diversifikasi ke aset riil seperti mata uang kripto, komoditas, dan instrumen lindung nilai inflasi. Alokasikan ke stablecoin untuk menjaga stabilitas, pertimbangkan aset pertumbuhan untuk keuntungan jangka panjang, serta lakukan rebalancing secara disiplin untuk menghadapi inflasi tinggi dan pertumbuhan lambat.
Stagflation memadukan inflasi tinggi dengan stagnasi ekonomi. Berbeda dengan inflasi biasa, stagflation menampilkan kenaikan harga bersamaan dengan pertumbuhan lambat dan pengangguran. Berbeda dari resesi, stagflation tetap mempertahankan harga tinggi saat ekonomi berkontraksi, sehingga lebih sulit diatasi melalui kebijakan moneter tradisional.











