
TPS bukan sekadar indikator teknis; nilai ini juga sangat relevan secara praktis bagi investor, trader, dan pengguna akhir. TPS yang tinggi mencerminkan kemampuan sistem dalam memproses transaksi secara cepat, memangkas waktu tunggu, dan memperkuat pengalaman pengguna. Hal ini krusial di pasar keuangan, di mana kecepatan dapat berdampak langsung terhadap profitabilitas para trader. Dengan TPS tinggi, pengguna dapat mengeksekusi transaksi tanpa hambatan keterlambatan yang tidak perlu, sehingga kinerja trading secara keseluruhan meningkat.
TPS, kependekan dari "Transactions Per Second", dihitung dengan mengukur jumlah transaksi yang selesai dalam periode waktu tertentu, lalu membaginya dengan jumlah detik pada periode tersebut. Misalnya, jika suatu sistem memproses 1.000 transaksi dalam 10 detik, TPS-nya adalah 100. Rumus ini memungkinkan evaluasi objektif atas kapasitas pemrosesan transaksi setiap sistem. Untuk meningkatkan TPS, sistem dapat mengoptimalkan basis data, memperbaiki algoritma pemrosesan, atau menerapkan perangkat keras yang lebih mumpuni. Selain itu, penerapan solusi teknologi mutakhir juga mampu meningkatkan angka TPS secara signifikan.
Di ranah blockchain, Ethereum dan Bitcoin adalah contoh utama yang menyoroti pentingnya TPS. Ethereum, melalui pengembangan seperti sharding dan Ethereum 2.0, terus berupaya meningkatkan TPS untuk mendukung lebih banyak aplikasi. Sementara itu, solusi seperti Lightning Network pada Bitcoin juga bertujuan memperbesar TPS dengan memproses transaksi di luar main chain. Inisiatif-inisiatif ini menegaskan bahwa komunitas blockchain menyadari peran vital TPS dalam mendorong pengembangan aplikasi berskala besar yang efisien.
TPS tinggi menawarkan keuntungan seperti kecepatan transaksi yang optimal, skalabilitas mumpuni, serta pengalaman pengguna yang lancar. Dengan TPS tinggi, trader dapat melakukan banyak transaksi dalam waktu singkat tanpa mengalami kemacetan atau keterlambatan. Namun, peningkatan TPS dapat memunculkan isu keamanan, karena sistem harus memproses volume data besar dalam waktu singkat, sehingga risiko terjadinya error atau kerentanan meningkat. Oleh sebab itu, keseimbangan antara performa tinggi dan keamanan menjadi tantangan utama yang dihadapi pengembang sistem.
Membandingkan TPS antara blockchain seperti Ethereum, Bitcoin, serta pendatang baru seperti Solana dan Cardano membantu investor memahami potensi dan keterbatasan setiap platform. Solana, misalnya, dikenal berkat TPS yang sangat tinggi, hingga puluhan ribu, sementara TPS Bitcoin hanya sekitar 7 transaksi per detik. Perbedaan ini mencerminkan ragam pilihan desain antar blockchain, di mana sebagian mengutamakan kecepatan, sementara yang lain fokus pada desentralisasi dan keamanan.
Bursa kripto terkemuka senantiasa berfokus mengoptimalkan TPS demi memastikan pengalaman trading yang efisien dan mulus bagi pengguna. Peningkatan TPS membantu platform memproses volume transaksi besar dalam waktu singkat, meminimalkan latensi, serta meningkatkan keandalan bursa. Hal ini sangat esensial terutama pada masa lonjakan volume transaksi, ketika jumlah pengguna meningkat tajam dan kebutuhan pemrosesan cepat tak terhindarkan.
TPS adalah singkatan dari Transactions Per Second (jumlah transaksi yang diproses per detik). Indikator ini mencerminkan kemampuan blockchain dalam memproses transaksi. Semakin tinggi TPS, semakin baik skalabilitas blockchain dan semakin banyak transaksi yang dapat diproses secara bersamaan.
TPS yang tinggi umumnya lebih baik karena mendukung pemrosesan transaksi yang cepat dan efisien. TPS menjadi penting karena secara langsung memengaruhi kecepatan jaringan, kapasitas pengelolaan volume transaksi besar, serta pengalaman pengguna.
Bitcoin mencatat TPS sekitar 7, Ethereum sekitar 30, sedangkan Solana mencapai 65.000 TPS. Solana 100 kali lebih cepat daripada Ethereum 2.0 dan 9.000 kali lebih cepat dari Bitcoin, menjadikannya blockchain dengan kecepatan pemrosesan tertinggi di antara ketiganya.
Untuk meningkatkan TPS, dapat diterapkan solusi Layer 2 seperti Rollup (Optimistic Rollup atau Zero-Knowledge Proof) guna memproses transaksi di luar layer utama, atau dengan mengoptimalkan mekanisme konsensus dan memperbesar ukuran blok.
Terdapat hubungan kompleks antara TPS dan desentralisasi: peningkatan desentralisasi umumnya menurunkan TPS karena semakin banyak node validator memperlambat proses konsensus, sedangkan sentralisasi dapat meningkatkan TPS namun menurunkan keamanan. Menemukan keseimbangan antara kedua aspek ini merupakan tantangan utama dalam desain blockchain.










