
Decentralized finance (DeFi) telah mengubah lanskap cryptocurrency, dengan miliaran dolar kini tersimpan di platform terdesentralisasi. Menyediakan likuiditas ke platform-platform ini menawarkan peluang pendapatan pasif yang menarik, namun trader perlu memahami satu konsep penting yang dapat berdampak besar pada hasil investasi: impermanent loss. Panduan ini membahas secara menyeluruh mekanisme impermanent loss, metode perhitungannya, serta strategi untuk meminimalkan dampaknya pada investasi DeFi Anda.
Impermanent loss adalah fenomena di mana aset kripto yang di-stake dalam liquidity pool pada platform terdesentralisasi mengalami penurunan nilai lebih besar dibandingkan jika hanya disimpan di dompet pribadi. Artinya, saat trader mengalami impermanent loss, nilai cryptocurrency yang dimiliki menjadi lebih rendah dibandingkan jika aset tersebut tetap di luar protokol DeFi.
Risiko ini muncul ketika trader menyetorkan cryptocurrency ke protokol DeFi yang disebut liquidity pool. Pool ini berfungsi sebagai brankas virtual berisi deposit kripto dari pengguna yang ingin memperoleh imbal hasil berupa reward token atau persentase biaya transaksi. Cryptocurrency dalam pool tersedia bagi trader DeFi lain yang ingin menukar token langsung ke dompet pribadi mereka.
Mekanisme ini dijalankan oleh smart contract berbasis blockchain yang memproses transaksi secara otomatis tanpa perantara. Dalam sistem terdesentralisasi ini, liquidity pool terus menyesuaikan keseimbangan aset kripto mengikuti fluktuasi harga dan permintaan pasar secara real-time. Penyesuaian terus-menerus ini bisa menyebabkan ketidakseimbangan kontribusi masing-masing liquidity provider, sehingga menimbulkan impermanent loss.
Istilah "impermanent" berarti kerugian ini hanya menjadi permanen jika trader menarik aset kripto, bukan menunggu harga pasar kembali ke level yang lebih baik. Jika imbal hasil dari penyediaan likuiditas tidak cukup atau tidak melebihi nilai pasar aset yang disetorkan, impermanent loss akan mengurangi potensi keuntungan atau memperbesar kerugian.
Impermanent loss pada kripto secara spesifik terjadi di automated market maker (AMM), yakni kategori khusus dari platform trading terdesentralisasi. Platform ini meminta liquidity provider menyetorkan dua cryptocurrency dengan rasio 50/50 ke liquidity pool. Mereka menggunakan persamaan matematika "x*y=k" — di mana "x" dan "y" adalah dua cryptocurrency, dan "k" merupakan variabel konstan — untuk menjaga keseimbangan aset kripto dalam pool.
Ketika harga salah satu atau kedua cryptocurrency dalam pasangan pool berubah, komposisi aset digital dalam pool akan menyesuaikan. Trader kripto dan liquidity provider secara rutin menambah atau menarik aset virtual dari platform ini, sehingga keseimbangan token dalam liquidity pool selalu berubah.
Arbitrase sangat berperan dalam ekosistem ini. Ketika perbedaan harga besar muncul antara cryptocurrency di platform AMM dan bursa lain, trader arbitrase memanfaatkan peluang tersebut untuk mencari profit. Misalnya, jika Ethereum (ETH) diperdagangkan dengan harga berbeda di berbagai platform, arbitrase akan membeli dan menjual secara bersamaan untuk memperoleh keuntungan. Aktivitas arbitrase ini mengurangi ETH di pool dibandingkan cryptocurrency pasangannya, sehingga nilai investasi awal liquidity provider berkurang.
Setiap platform AMM memiliki protokol khusus untuk mengatur suplai token dalam liquidity pool, namun ada rumus standar untuk menghitung impermanent loss pada kripto:
2*(√price ratio/(price ratio+1)) - 1
Price ratio mengukur perubahan nilai antara dua cryptocurrency dalam pool. Trader menghitungnya dengan membagi nilai tukar saat deposit dengan nilai tukar saat ini.
Contoh praktis: Seorang trader menyetorkan 1 ETH dan 1.600 USDC ke pool ETH/USDC. Karena platform menggunakan pasangan 50/50, 1 ETH setara $1.600 saat transaksi, sehingga nilai tukar awalnya adalah 1.600. Jika harga ETH naik ke $2.000, price ratio-nya adalah:
1.600/2.000 = 0,8
Masukkan ke rumus impermanent loss:
2*(√0,8/(0,8+1)) - 1 = -0,0061
Perhitungan ini menunjukkan dampak impermanent loss sebesar -0,61% jika ETH bertahan di $2.000 per koin. Secara praktis, menyimpan ETH dan USDC di dompet pribadi, bukan staking di liquidity pool, akan memberikan daya beli 0,61% lebih besar.
Perhitungan ini tidak memasukkan biaya transaksi yang diterima liquidity provider atau perubahan total aset yang disetorkan. Rumus ini juga tidak berlaku untuk liquidity pool dengan rasio non-standar. Untuk analisis lebih mendalam, trader bisa menggunakan kalkulator impermanent loss online gratis untuk memperkirakan dampak pada aset digital mereka.
Walaupun developer DeFi terus mengembangkan algoritma dan solusi untuk mengurangi risiko impermanent loss, menghindari sepenuhnya masalah ini pada cryptocurrency volatil di platform AMM tetap mustahil. Namun, ada beberapa teknik efektif yang dapat membantu liquidity provider meminimalkan dampaknya terhadap portofolio.
Fokus pada aset digital ber-volatilitas rendah: Cryptocurrency dengan volatilitas tinggi atau fluktuasi harga besar meningkatkan risiko impermanent loss secara signifikan. Sebaliknya, pasangan kripto dengan volatilitas rendah bisa mengurangi risiko tersebut. Analisis volatilitas historis dan korelasi harga antar cryptocurrency sangat penting. Kalkulator impermanent loss dapat digunakan untuk simulasi skenario dan membantu memilih pasangan yang sesuai dengan profil risiko Anda. Untuk risiko impermanent loss nol, fokuslah pada pasangan stablecoin seperti USDC/USDT atau USDC/DAI, karena stablecoin ini bernilai tetap setara USD. Begitu juga pasangan token wrapped seperti ETH dan wETH yang memiliki nilai pasar sama, sehingga risiko impermanent loss hilang.
Ubah persentase total aset digital: Selain memilih token yang berbeda, beberapa liquidity provider mengatur persentase cryptocurrency yang di-stake di platform AMM. Meskipun pool 50/50 cukup umum di banyak platform, protokol AMM lain menawarkan fleksibilitas alokasi. Contohnya, beberapa platform memungkinkan liquidity provider membagi lebih dari dua aset kripto dengan berbagai persentase. Alih-alih menyetor 50/50 USDC dan ETH, pengguna dapat memilih rasio USDC vs ETH sebesar 80/20 untuk memaksimalkan stabilitas USDC. Meski harga ETH berubah drastis, liquidity provider ini mengalami impermanent loss lebih kecil dibandingkan pasangan ETH/USDC 50/50 di platform standar.
Riset protokol proteksi impermanent loss: Impermanent loss protection (ILP) adalah fitur eksperimental di beberapa protokol DeFi, yang menjamin liquidity provider menerima deposit awal saat penarikan. Meski volatilitas harga pasangan kripto menyebabkan impermanent loss, platform ILP memakai mekanisme seperti komunitas treasury atau sistem reward khusus agar trader tidak mengalami kerugian lebih besar daripada hanya menyimpan kripto. Beberapa program ILP menawarkan perlindungan impermanent loss jika liquidity provider stake cryptocurrency dalam pool untuk periode tertentu (di luar biaya transaksi dan reward). Namun, ILP masih fitur baru yang harus diwaspadai karena teknologi dan kerangka hukum belum mapan, dan ada kasus aplikasi DeFi menonaktifkan fitur ini secara tiba-tiba.
Memahami impermanent loss crypto sangat penting bagi setiap peserta DeFi. Impermanent loss adalah risiko utama dalam penyediaan likuiditas DeFi yang wajib dipahami sebelum berpartisipasi di platform AMM. Fenomena ini terjadi saat nilai cryptocurrency yang di-stake dalam liquidity pool turun dibandingkan jika hanya disimpan di dompet pribadi, terutama akibat volatilitas harga dan aktivitas arbitrase. Sementara impermanent loss crypto dapat berdampak besar pada hasil investasi, kerugian hanya menjadi permanen saat aset ditarik.
Trader dapat menghitung potensi impermanent loss dengan rumus matematika atau kalkulator online, untuk pengambilan keputusan strategi penyediaan likuiditas yang lebih bijak. Teknik mitigasi meliputi fokus pada aset ber-volatilitas rendah seperti pasangan stablecoin, penyesuaian alokasi token pada platform yang fleksibel, serta eksplorasi protokol proteksi impermanent loss yang sedang berkembang.
Keberhasilan partisipasi DeFi membutuhkan keseimbangan antara yield dari penyediaan likuiditas dan risiko impermanent loss. Dengan memahami mekanisme, menghitung dampak potensial, serta menerapkan strategi manajemen risiko yang tepat, trader kripto dapat mengambil keputusan optimal terkait partisipasi di liquidity pool DeFi. Seiring ekosistem DeFi terus berkembang, tetap up-to-date dengan inovasi mitigasi impermanent loss sangat penting untuk mengoptimalkan hasil sekaligus mengelola risiko.
Misalkan Anda menyetor nilai ETH dan USDC yang sama ke liquidity pool. Jika harga ETH naik drastis sementara USDC tetap stabil, pool akan otomatis menyeimbangkan ulang, sehingga Anda memiliki lebih banyak USDC dan lebih sedikit ETH dibandingkan jika hanya menyimpan kedua token. Selisih ini adalah impermanent loss, yang bisa pulih jika harga kembali ke posisi awal.
Tingkat keparahan impermanent loss bergantung pada volatilitas harga dan dinamika pool. Pada pasangan token stabil, kerugian sangat kecil. Volatilitas tinggi meningkatkan potensi kerugian, namun biaya transaksi dan reward dapat mengimbangi kerugian tersebut secara signifikan.
Pantau rasio harga token secara cermat, rebalance posisi liquidity pool secara berkala, dan pertimbangkan untuk menyediakan likuiditas pada pasangan token stabil atau berkorelasi tinggi. Penyediaan likuiditas jangka pendek dan strategi penentuan waktu dapat mengurangi eksposur impermanent loss.
Jika sebuah koin kehabisan likuiditas, proses jual beli menjadi sangat sulit. Order tidak terisi, harga sangat fluktuatif, dan volume perdagangan turun drastis. Pengguna menghadapi slippage besar dan bisa kesulitan keluar dari posisi pada harga yang diinginkan.











