

Berlawanan dengan prediksi sebelumnya, risiko delisting XVG kini jauh berkurang setelah adanya perubahan regulasi besar pada 2026. Keputusan bersejarah SEC Amerika Serikat yang menghapus cryptocurrency dari daftar risiko prioritas menandai pergeseran signifikan dari era "regulasi berbasis penegakan" yang sebelumnya menjadi ciri kebijakan otoritas tersebut terhadap privacy coin dan aset digital secara umum. Penurunan prioritas ini sejalan dengan kebijakan pro-crypto pemerintahan Trump serta menandakan bahwa regulasi formal akan menggantikan tindakan penegakan yang sporadis.
Keputusan Binance untuk membatalkan rencana delisting privacy coin di wilayah Uni Eropa turut mengurangi ancaman langsung terhadap XVG. Platform ini, yang semula berencana mendelisting XVG dan SCRT, merevisi kebijakan tersebut seiring kejelasan hukum yang semakin baik. Bagi para investor yang memegang atau mempertimbangkan XVG, pembatalan ini menghapus ancaman utama delisting yang sebelumnya berdampak pada likuiditas dan akses pasar.
Perubahan regulasi ini membawa dampak signifikan bagi investor privacy coin. Pergeseran ke kerangka regulasi aset kripto yang komprehensif dan amandemen formal Securities Exchange Act menandakan regulator mulai menyediakan jalur legal bagi aset privasi, bukan lagi menerapkan larangan total. Keberadaan XVG di 145 pasar aktif menunjukkan kepercayaan investor yang tetap terjaga di tengah ketidakpastian regulasi, dengan volume transaksi harian sekitar $25,7 miliar, menandakan minat pasar yang kembali pulih seiring berkurangnya risiko regulasi.
Platform trading terpusat menghadapi tuntutan regulasi yang sangat ketat untuk mencatatkan privacy coin, dengan kewajiban menyediakan sistem verifikasi identitas dan pemantauan transaksi yang menyeluruh sesuai standar anti-pencucian uang. Kebijakan KYC/AML ini secara mendasar mengubah akses investor ke XVG dan aset privasi serupa. Bursa yang menerapkan protokol tersebut wajib mengumpulkan data pribadi, memverifikasi identitas, serta melaporkan aktivitas mencurigakan—proses yang menimbulkan hambatan sehingga perdagangan privacy coin di platform utama semakin berkurang.
Dampak terhadap akses investor sangat signifikan. Sepanjang 2025, sebanyak 73 bursa di seluruh dunia mendelisting setidaknya satu privacy coin, meningkat 43% dibandingkan 2023. Gelombang delisting ini berhubungan langsung dengan peningkatan pengawasan regulasi dan biaya kepatuhan yang semakin sulit dipenuhi. Investor privacy coin menghadapi penurunan likuiditas dan semakin sedikitnya pilihan bursa, terutama di negara-negara dengan persyaratan kepatuhan yang paling ketat.
Walaupun platform alternatif tanpa KYC mulai bermunculan—misalnya protokol terdesentralisasi khusus—opsi ini pun menjadi sorotan regulator. XVG, yang masih tercatat di platform seperti BitMart setelah mendapat persetujuan pada Januari 2024, menunjukkan beberapa bursa mampu mengatasi hambatan tersebut. Namun, tren utama tetap menunjukkan bahwa pembatasan perdagangan berbasis kepatuhan secara mendasar membatasi akses privacy coin, memaksa investor memilih antara kepatuhan regulasi dan privasi—ketegangan yang diperkirakan akan meningkat seiring regulator memperketat pengawasan kripto secara global.
Dengan kerangka pemantauan global yang semakin ketat, privacy coin seperti XVG menghadapi tekanan besar yang langsung berdampak pada likuiditas pasar dan perlindungan investor. Standarisasi persyaratan kepatuhan di berbagai negara menciptakan hambatan serius bagi trader yang mencari akses pasar yang terjamin. Keberadaan XVG di 145 pasar aktif menutupi kerentanan mendasar: bursa kini semakin membatasi perdagangan privacy coin di tengah tuntutan anti-pencucian uang dan pengawasan analitik blockchain yang semakin ketat.
Masalah likuiditas berasal dari ketidakjelasan regulasi terkait klasifikasi dan perlakuan privacy coin di pasar utama. Risiko delisting menjadi ancaman nyata karena petugas kepatuhan kini mengambil sikap lebih ketat terhadap koin dengan fitur privasi transaksi. Pengetatan regulasi ini langsung memangkas kedalaman pasar, memperlebar spread bid-ask, dan menyulitkan penentuan harga bagi investor XVG. Ketika institusi menahan diri akibat kekhawatiran kepatuhan, likuiditas ritel pun cenderung ikut menyusut.
Perlindungan investor juga sangat terpengaruh oleh ketidakpastian tersebut. Standar transparansi masih belum jelas untuk kepemilikan dan transaksi privacy coin, membuat investor rentan pada tindakan penegakan regulasi yang tak terduga. Kerangka pemantauan kini fokus pada kemampuan analitik blockchain untuk melacak pergerakan privacy coin, sementara standar pelaporan transparan bagi investor ritel masih tertinggal. Tidak adanya regulasi jelas atas status XVG menciptakan asimetri informasi yang menguntungkan institusi dengan sumber daya kepatuhan khusus, sehingga investor kecil semakin terpinggirkan di lanskap yang tidak pasti ini.
Privacy coin menyembunyikan detail transaksi menggunakan enkripsi tingkat lanjut, sehingga pengirim, penerima, dan nominal tidak dapat dilacak. Regulator memperketat pengawasan karena risiko penyalahgunaan untuk pencucian uang dan aktivitas ilegal, berbeda dengan blockchain terbuka di mana transaksi tercatat secara publik.
Privacy coin menghadapi risiko kepatuhan utama seperti kekhawatiran anti-pencucian uang dan pengawasan regulasi. Tiongkok dan Prancis sudah melarang privacy coin, sementara Uni Eropa berencana memperketat regulasi. Risiko delisting dari platform besar masih signifikan seiring pengawasan regulator global semakin intensif.
Investasi pada privacy coin membawa risiko regulasi; kepemilikan dinyatakan ilegal di Jepang, Korea Selatan, dan Australia. Di Amerika Serikat, privacy coin legal namun tunduk pada regulasi AML dan KYC yang ketat. Kerangka MiCA Uni Eropa membatasi perdagangan institusi. Selalu periksa persyaratan kepatuhan lokal sebelum berinvestasi.
Ketidakpastian regulasi mendorong permintaan privacy coin, meningkatkan harga namun mempersempit likuiditas pasar akibat risiko pembatasan di bursa. Tantangan kepatuhan yang terus berlanjut dan perubahan regulasi akan terus membentuk dinamika pasar serta tingkat adopsi.
Investor memantau regulasi lokal, tren penegakan global, dan kemungkinan intervensi pemerintah. Ikuti perkembangan kepatuhan dan sesuaikan posisi investasi secara dinamis. Kerangka rasio risiko-imbalan 2:1 membantu menyeimbangkan potensi keuntungan dengan risiko regulasi.
Privacy coin menghadapi risiko delisting yang semakin besar akibat pengawasan regulasi. Bursa utama telah menghapus privacy coin untuk memenuhi regulasi AML dan KYC. Tekanan regulasi global terus meningkat, sehingga delisting berpotensi terjadi pada privacy coin yang tidak patuh.
Privacy coin memberikan anonimitas transaksi, sedangkan regulasi AML dan KYC mewajibkan transparansi dan verifikasi identitas. Konflik mendasar ini membuat privacy coin tidak bisa memenuhi persyaratan regulator, membatasi adopsi institusi dan menciptakan ketidakpastian hukum bagi pengguna di negara yang diatur ketat.
Privacy coin dapat mencapai kepatuhan melalui zero-knowledge proofs dan mekanisme transparansi selektif, tetapi tantangan regulasi masih terjadi secara global. Inovasi teknologi membuka solusi yang kompatibel dengan privasi, namun kerangka regulasi tetap membatasi aset privasi, sehingga pengembang perlu terus berinovasi dan beradaptasi dengan kebijakan terbaru.









