

Insiden WEMIX pada Februari 2025 menjadi contoh nyata bahwa kerentanan smart contract tidak hanya berasal dari kelemahan kode, tetapi juga dari celah autentikasi dan kontrol akses. Keputusan pengembang untuk mengunggah kunci autentikasi ke repositori bersama menimbulkan celah kritis yang akhirnya dimanfaatkan penyerang dua bulan kemudian. Saat serangan terjadi, peretas melakukan lima belas transaksi penarikan token yang menyebabkan hilangnya sekitar 8,65 juta token WEMIX senilai 6,22 juta dolar AS—menandai peristiwa inflasi token tidak sah sekitar 30%.
Kejadian ini memperlihatkan bahwa kerentanan smart contract kerap bersumber dari kegagalan keamanan di luar rantai (off-chain), bukan hanya dari cacat kode di dalam rantai (on-chain). Penyerang memperoleh akses ke kredensial kriptografis yang disimpan secara tidak aman, sehingga berhasil mengakali mekanisme otorisasi yang telah dirancang platform. Peristiwa ini menegaskan kegagalan protokol keamanan WEMIX dalam menyediakan langkah perlindungan seperti wallet multi-signature atau autentikasi multi-faktor, yang semestinya dapat mencegah penarikan tidak sah meski kunci telah bocor. Pemahaman atas kerentanan ini sangat penting bagi keamanan blockchain, karena manajemen kunci yang tepat dan pelapisan autentikasi menjadi faktor utama penentu ketangguhan sistem. Kasus WEMIX memperlihatkan mengapa pengembang harus memperlakukan infrastruktur autentikasi dengan ketelitian setara dengan kode smart contract itu sendiri.
Pada 28 Februari 2025, WEMIX mengalami serangan jaringan besar yang menargetkan infrastruktur Play Bridge Vault dan menyebabkan kerugian sebesar 6,22 juta dolar AS akibat pencurian sekitar 8,6 juta token WEMIX. Penyelidikan mengungkap bahwa penyerang berhasil meretas kunci autentikasi yang digunakan untuk melacak platform NFT NILE, yang sebelumnya dicuri sekitar dua bulan dari repositori pengembang bersama. Masa pengintaian yang panjang memungkinkan pelaku untuk menyusun rencana matang sebelum melakukan beberapa penarikan token.
Respons tim WEMIX terhadap pelanggaran keamanan ini mendapat sorotan tajam karena strategi keterlambatan pengungkapan yang diambil. Alih-alih mengumumkan insiden secara langsung, perusahaan menunggu empat hari sebelum menginformasikan serangan ke publik. CEO Kim Seok-hwan membela langkah ini dengan alasan bahwa pengumuman dini tanpa pemahaman menyeluruh atas metode eksploitasi justru dapat membuka peluang serangan tambahan. Selain itu, pengumuman terlalu awal berpotensi memicu kepanikan di kalangan pemegang token dan mengganggu stabilitas pasar.
Pelanggaran Februari 2025 sangat merugikan karena sebagian besar aset yang dicuri telah dilikuidasi sebelum adanya pengumuman publik. Dampak terhadap pasar yang ditimbulkan, ditambah keterlambatan transparansi, meningkatkan kekhawatiran investor atas protokol keamanan serta pola komunikasi platform. Insiden ini mengungkap kelemahan mendasar dalam praktik manajemen kredensial dan menekankan pentingnya sistem autentikasi multi-signature untuk mencegah akses tidak sah akibat kredensial autentikasi yang bocor.
Dalam langkah regulasi bersejarah, lima bursa mata uang kripto utama Korea Selatan yang tergabung dalam Digital Asset Exchange Alliance (DAXA) secara kolektif mengumumkan penghapusan perdagangan WEMIX per 2 Juni 2025, menandai kali kedua token ini dihapus dari bursa. Keputusan terkoordinasi bursa Korea ini langsung dipicu oleh berulangnya kegagalan keamanan dalam ekosistem WEMIX. Pemicunya adalah pengumuman WEMIX Foundation bahwa layanan pertukaran aset Play Bridge menjadi korban serangan eksternal pada Februari 2025, menyebabkan penarikan tidak sah sekitar 8,65 juta token WEMIX. Setelah insiden tersebut, bursa-bursa utama Korea menempatkan WEMIX dalam daftar pemantauan kehati-hatian investasi sebelum akhirnya melakukan delisting penuh. Kerangka regulasi DAXA secara tegas melarang pencatatan aset virtual yang "terlibat dalam insiden keamanan seperti peretasan dengan sebab yang tidak diketahui," sehingga penghapusan WEMIX dilakukan secara prosedural. Delisting ini menjadi pukulan berat bagi pemegang WEMIX karena harga token anjlok lebih dari 60% setelah pengumuman. Penting untuk dicatat bahwa ini adalah delisting kedua WEMIX dari bursa Korea, setelah sebelumnya pada 2022 akibat ketidaksesuaian sirkulasi, menjadikan WEMIX sebagai mata uang kripto pertama yang mengalami double-delisting di Korea. Krisis ini menegaskan bahwa kegagalan keamanan dan kurangnya transparansi langsung memicu intervensi regulator dalam lingkungan kepatuhan kripto Korea yang sangat ketat.
WEMIX adalah platform ekosistem gaming blockchain yang menawarkan DApp game, marketplace aset digital, serta layanan wallet. WEMIX berfokus pada nilai pengalaman pengguna dalam gaming Web3, memungkinkan hadirnya game inovatif berbasis blockchain dan pengelolaan aset digital di luar bursa tradisional.
Pada Februari 2025, WEMIX mengalami pelanggaran keamanan kritis yang menyebabkan 8,65 juta token dicuri dengan kerugian sekitar 610 juta dolar AS. Serangan ini memanfaatkan kerentanan kunci autentikasi di infrastruktur platform NFT NILE.
WEMIX didelisting akibat ketidaksesuaian data suplai sirkulasi yang berlebihan. Pemegang token menghadapi pembatasan likuiditas serius serta kerugian besar akibat penurunan volume perdagangan dan turunnya kepercayaan pasar.
Kerentanan keamanan WEMIX ditemukan oleh peretas pihak ketiga dan kemudian diungkapkan. Tim proyek segera menerapkan patch, melakukan audit keamanan menyeluruh, dan memperkuat infrastruktur keamanan platform untuk mencegah pelanggaran berikutnya serta melindungi aset pengguna.
Pelanggaran keamanan dan delisting WEMIX sangat merusak kepercayaan investor terhadap token gaming. Insiden ini memicu kehati-hatian besar di pasar, menyebabkan penurunan nilai signifikan dan berkurangnya aliran modal ke proyek kripto gaming. Namun, sektor ini tetap berkembang seiring proyek-proyek memperkuat keamanan dan kepatuhan regulasi.











