

Setelah era Web 1.0 dan Web 2.0, internet kini berkembang menuju jaringan yang lebih terbuka, adil, dan aman—menandai dimulainya era Web 3.0. Dengan kemajuan teknologi blockchain, Web 3.0 menjadi pusat perhatian industri teknologi.
Pada tahun 2014, Dr. Gavin Wood memperkenalkan visi transformatif untuk Web 3.0. Lalu, apa itu Web3? Secara mendasar, Web 3.0 adalah gerakan dan kumpulan protokol yang bertujuan membuat internet lebih terdesentralisasi, dapat diverifikasi, dan aman. Web 3.0 berupaya membangun internet tanpa server yang terdesentralisasi, di mana pengguna mengendalikan identitas, data, dan masa depan digital mereka sendiri.
Web 3.0 akan mendorong terciptanya ekonomi digital global baru, menghadirkan model bisnis dan pasar inovatif, mendisrupsi monopoli platform, dan memicu inovasi akar rumput secara luas. Kevin Kelly dalam bukunya "Out of Control" merangkum: "Tidak ada awal, tidak ada akhir, tidak ada pusat—atau sebaliknya, di mana-mana adalah awal, di mana-mana adalah akhir, di mana-mana adalah pusat." Kutipan ini menangkap esensi Web 3.0—dunia tanpa server atau pusat, atau justru di mana setiap titik dapat menjadi server ataupun pusat.
Internet telah mengalami tiga fase utama, masing-masing dengan fitur dan paradigma yang berbeda.
Era Web 1.0, internet pada awal 1990-an, ditandai dengan penjelajahan pasif. Pengguna hanya dapat mengakses konten dari situs web tanpa interaksi. Portal seperti Yahoo dan Google merepresentasikan era ini. Model Web 1.0 menjadikan platform sebagai pencipta, pemilik, pengendali, dan penerima keuntungan konten, sementara pengguna hanya menerima informasi secara pasif.
Era Web 2.0 muncul pada tahun 2004 seiring dengan kematangan internet, ditandai perubahan mendasar dalam cara berbagi informasi. Web 2.0 memberdayakan pengguna untuk membuat konten serta berkolaborasi dan berinteraksi, seperti dengan munculnya blog dan platform media sosial seperti Facebook. Era ini menempatkan pengguna di pusat, mengubah mereka dari konsumen pasif menjadi produsen konten aktif.
Era Web 3.0 hadir sebagai respons terhadap makin sentralnya dan memburuknya isu keamanan serta privasi data di Web 2.0. Kasus pelanggaran data Facebook menjadi contoh nyata. Web 3.0 didesain untuk mengatasi tantangan ini, menawarkan internet yang lebih "efisien, adil, tepercaya, dan bernilai". Pada Web 3.0, identitas digital, aset, dan data dikembalikan kepada kepemilikan dan kendali individu, memajukan desentralisasi yang lebih luas. Model operasinya adalah buatan pengguna, dimiliki pengguna, dikendalikan pengguna, dan didistribusikan secara peer-to-peer. Karena itu, Web 3.0 juga dikenal sebagai internet nilai terdesentralisasi.
Perbandingan visual ketiga era dapat dilihat pada tabel berikut:
| Tahap | Web 1.0 | Web 2.0 | Web 3.0 |
|---|---|---|---|
| Kata Kunci | Baca Saja | Interaktif | Terdesentralisasi |
| Deskripsi | Situs web menyediakan konten; pengguna membaca konten | Pengguna menghasilkan konten dan berinteraksi dengan situs serta pengguna lain | Identitas digital, aset, dan data kembali menjadi milik individu |
| Contoh Representatif | Portal seperti Yahoo | Platform sosial seperti Facebook | Aplikasi beragam |
Seiring perkembangan teknologi internet, proyek Web 3.0 terus bermunculan. Sektor utama meliputi blockchain publik, penyimpanan terdesentralisasi, nama domain, browser, dan lainnya.
Pada blockchain publik, Polkadot—karya Dr. Gavin Wood—menjawab kebutuhan interoperabilitas lintas rantai pada era smart contract. Polkadot memungkinkan transfer aset maupun informasi antar rantai, menyediakan infrastruktur dasar bagi Web 3.0.
Untuk penyimpanan terdesentralisasi, Filecoin menjadi protokol Web 3.0 yang menonjol. Pengguna dapat menawarkan ruang penyimpanan hard disk berlebih kepada yang membutuhkan, menciptakan pasar penyimpanan terdesentralisasi dan mendorong ekonomi berbagi.
Di ranah browser, Brave menghadirkan pengalaman bebas iklan bagi pengguna. Pengguna Brave menikmati browsing tanpa gangguan iklan dan memperoleh imbalan atas aktivitas mereka.
Pada nama domain terdesentralisasi, proyek Handshake memberi peluang baru bagi pengguna. Biaya registrasi dibayar dengan token HNS, dan pengguna mendapatkan kunci kriptografi sebagai bukti kepemilikan domain. Seluruh transaksi domain HNS tercatat di blockchain, menjamin transparansi dan keabadian data.
Keunggulan
Web 3.0 menghadirkan model ekonomi baru dan perlindungan kuat atas hak pengguna. Pertama, Web 3.0 membangun ekonomi digital yang transparan dan tepercaya. Di dalamnya, pengguna memiliki data yang mereka hasilkan, dan konsumen tidak dapat mengaksesnya tanpa izin eksplisit dari pembuatnya. Pemilik konten menerima manfaat langsung dari kontribusi mereka. Pengguna berperan sebagai konsumen sekaligus penjaga ekosistem, membentuk siklus nilai yang sehat.
Kedua, Web 3.0 memberikan kepemilikan penuh atas konten kepada pengguna. Dalam model internet tradisional, kreator konten jarang memperoleh imbalan yang adil. Contohnya, artikel di platform sosial bisa dihapus karena perubahan kebijakan; musik digital yang dibeli dapat hilang ketika lisensi berakhir; item gim dapat lenyap saat pengembang mengubah kebijakan. Di dunia Web 3.0, isu ini terselesaikan—perubahan produk atau gim memerlukan pemungutan suara komunitas, sehingga kontrol sepihak pengembang dihilangkan.
Kelemahan
Meski prospektif, Web 3.0 masih menghadapi tantangan besar. Kendala teknis seperti kemacetan jaringan blockchain, efisiensi rendah, dan biaya tinggi berdampak langsung pada pengalaman pengguna. Beban biaya ini sering dialihkan ke pengguna, sehingga adopsi menjadi lebih sulit.
Risiko keamanan juga masih tinggi. Kerentanan smart contract dapat dieksploitasi untuk menyerang, mengancam aset pengguna. Di samping itu, Web 3.0 menuntut pembelajaran ekstra bagi pengguna baru, sehingga adopsi massal berjalan lambat.
Web 3.0 menghadirkan model internet yang lebih aman, efisien, dan terbuka, memberikan kendali privasi dan keamanan kepada pengguna. Melalui desentralisasi, Web 3.0 mengembalikan kontrol atas data, identitas, dan aset kepada individu, memutus dominasi platform lama.
Meskipun implementasi penuh Web 3.0 memerlukan waktu dan harus melewati tantangan teknis, keamanan, serta adopsi, kemajuan blockchain terus membuka jalan menuju lingkungan online yang lebih aman, dinamis, dan menarik. Kehadiran Web 3.0 menjanjikan transformasi revolusioner bagi ekonomi digital.
Prinsip utama Web3 adalah desentralisasi. Dengan teknologi blockchain, pengguna memperoleh kendali langsung atas data, aset, dan identitas. Pendekatan ini menghilangkan perantara, memungkinkan pertukaran nilai serta informasi secara peer-to-peer, dan membangun ekosistem internet yang lebih terbuka, transparan, dan mandiri.
Web3 tidak ilegal—Web3 adalah teknologi dan filosofi. Tindakan ilegal seperti penipuan atau pencucian uang yang dilakukan lewat Web3 tetap dilarang hukum. Penggunaan Web3 dan cryptocurrency secara sah dan sesuai regulasi adalah legal, serta banyak negara tengah membangun kerangka regulasi industri ini.
Web 3.0 adalah generasi internet berbasis blockchain yang mengembalikan kepemilikan data kepada pengguna. Melalui smart contract dan decentralized applications, interaksi terjadi langsung tanpa perantara. Data transparan dan tidak dapat diubah, memberikan kendali penuh atas aset dan privasi individu.
Web2 memusatkan data pengguna dan kontrolnya, sedangkan Web3 menggunakan blockchain untuk desentralisasi. Di Web3, pengguna memiliki data mereka sendiri, transaksi transparan dan tidak dapat diubah, dan smart contracts mengeksekusi aturan secara otomatis—menghilangkan perantara dan memungkinkan transfer nilai peer-to-peer yang autentik.







