


Jepang berdiri di titik temu antara warisan budaya dan kemajuan teknologi, memadukan kekayaan tradisi dengan sektor teknologi yang diakui dunia. Perpaduan ini semakin pesat di sektor keuangan dan blockchain. Rasio pembayaran non-tunai meningkat dari 13% pada 2010 menjadi 42,8% di 2024, melampaui target pemerintah sebesar 40% satu tahun lebih cepat. Pasar blockchain Jepang diproyeksikan melonjak dari USD 4,99 miliar pada 2022 menjadi hampir USD 750 miliar pada 2030 (CAGR 88,8%), dengan proyeksi lebih luas mencapai USD 2,518 triliun di 2033.
Di tengah transformasi digital yang pesat, Avalanche blockchain telah menjadi platform tepercaya di Jepang, mendorong tokenisasi, mobilitas, stablecoin, dan solusi mata uang digital. Mulai dari koleksi mewah hingga produk keuangan teregulasi, kecepatan, fleksibilitas, dan desain modular Avalanche mendorong inovasi lintas industri.
Merek warisan kini membangun hubungan baru dengan para kolektor. Bowmore Whisky, salah satu distileri tertua di Skotlandia dan bagian dari grup Suntory, menggandeng Avalanche untuk meluncurkan koleksi whisky tokenisasi perdana.
Seri perdana menawarkan dua edisi: Bowmore 30-Year Collection dan Bowmore 12-Year Edition, masing-masing hanya tersedia 150 botol untuk akses lebih luas. Setiap botol terhubung dengan NFT unik dan bernomor di C-Chain Avalanche yang berperforma tinggi. Tag NFC tertanam memberikan autentikasi anti-manipulasi, dan penukaran botol berlangsung di acara tatap muka pilihan. Pembeli dapat mengklaim NFT mereka via situs Suntory dengan dompet kripto atau email tradisional, menjembatani pengguna Web3 dan kolektor whisky klasik.
Pemegang NFT mendapatkan bukan hanya whisky langka—mereka juga menjadi bagian dari komunitas eksklusif Bowmore. Keanggotaan membuka akses ke merchandise edisi terbatas, informasi awal tentang rilisan mendatang, dan undangan ke kanal penjualan privat untuk pembelian prioritas. Bagi kolektor, ini lebih dari kepemilikan; ini adalah pengalaman komunitas terkurasi yang menggabungkan tradisi, kelangkaan, dan akses digital premium.
Saat sektor otomotif Jepang menata ulang kepemilikan dan pembiayaan kendaraan, Toyota Blockchain Lab menggunakan Avalanche untuk membuat prototipe jaringan mobilitas baru.
Di whitepaper terbaru berjudul “MON: Orchestrating Trust Into Mobility Ecosystems,” Toyota Blockchain Lab membahas bagaimana blockchain menghubungkan pembiayaan, kepemilikan, dan layanan siklus hidup kendaraan di seluruh industri. Visi mereka adalah dunia multi-chain yang saling terhubung untuk aset, keuangan, dan layanan, bukan sekadar satu blockchain. Arsitektur Avalanche—sepenuhnya EVM-compatible dan mendukung Layer 1 spesifik aplikasi yang interoperabel—dipilih sebagai fondasi prototipe.
Prototipe ini menonjolkan keunggulan Avalanche: finalitas sub-detik, throughput tinggi, dan kemampuan menghadirkan blockchain khusus yang tetap berkolaborasi tanpa kehilangan kecepatan. Pendekatan ini dapat merevolusi pasar fintech otomotif global, yang diperkirakan melampaui USD 1,12 triliun pada 2031. Dengan pinjaman mobil AS mencapai USD 670 miliar per Desember 2024, kebutuhan akan infrastruktur yang transparan dan efisien sangat jelas. Rekam jejak Avalanche dalam pasar tokenisasi menunjukkan kemampuannya menangani transaksi keuangan berskala besar.
Stablecoin kini berperan nyata sebagai fondasi sistem keuangan institusional. Simplex, perusahaan yang berbasis di Tokyo, bekerja sama dengan Ava Labs dalam proof of concept untuk membuktikan Avalanche dan AvaCloud memenuhi kecepatan serta reliabilitas untuk stablecoin komersial.
Proof of concept ini mengintegrasikan mesin penerbitan dan penukaran stablecoin Simplex, dompet Simplex Fourth yang aman, pengelolaan private key, dan layanan Layer 1 terkelola dari AvaCloud, yang memungkinkan peluncuran chain privat dalam hitungan menit.
Hasilnya menegaskan keunggulan Avalanche: throughput di atas 1.000 transaksi per detik, finalitas penyelesaian sekitar satu detik, dan redundansi multi-region yang stabil tanpa penurunan performa. Capaian ini membuktikan kepada institusi keuangan bahwa Avalanche dapat memenuhi kebutuhan jaringan pembayaran, deposit, dan penyelesaian dengan reliabilitas dan kecepatan tinggi.
Dengan memanfaatkan kemampuan deployment subnet tanpa kode dari AvaCloud, Simplex membuktikan bisnis dapat membangun infrastruktur stablecoin sesuai standar layanan keuangan yang ketat. Pendekatan ini menurunkan hambatan masuk dan memperluas penggunaan stablecoin dari penerbitan dan penukaran hingga pembayaran dan transfer nyata. Seiring permintaan stablecoin meningkat global, Avalanche menjadi pilihan utama infrastruktur bagi perusahaan Jepang yang mengutamakan kepatuhan dan performa tinggi.
Jepang mencapai momentum penting saat stablecoin bertransformasi dari konsep menjadi infrastruktur keuangan nyata. Dalam perjanjian bersejarah, Electronic Network Systems dan Sumitomo Mitsui Banking Group—salah satu dari tiga bank terbesar Jepang—berkolaborasi dengan Avalanche untuk mengembangkan layanan stablecoin mulai dari penerbitan, distribusi, penyelesaian, hingga operasional.
Kemitraan ini terjadi setelah revisi Undang-Undang Layanan Pembayaran Jepang yang mengklasifikasikan stablecoin sebagai “instrumen pembayaran elektronik.” Dengan kepastian regulasi ini, Electronic Network dan Sumitomo Mitsui Banking memanfaatkan infrastruktur blockchain Avalanche untuk mempercepat pembayaran, menekan biaya, dan meningkatkan efisiensi dibanding metode tradisional.
Potensi use case sangat luas: remitansi lintas negara tanpa perantara lama, penyelesaian B2B yang lebih cepat dan murah, serta pemanfaatan jaringan 65.000 toko dan apotek Electronic Network di seluruh Jepang untuk pembayaran konsumen. Electronic Network membawa pengalaman puluhan tahun sebagai pelopor infrastruktur pembayaran Jepang, sementara Sumitomo Mitsui Banking memberikan pengaruh dan kredibilitas bank papan atas. Mereka berambisi melampaui pilot project—fokus pada adopsi komersial berkelanjutan dan deployment pasar, bukan sekadar proof of concept terisolasi.
Dalam tonggak sejarah untuk blockchain Jepang, JPYC berhasil memperoleh persetujuan regulasi sebagai bursa berizin pertama yang menerbitkan stablecoin berbasis yen sesuai revisi Undang-Undang Layanan Pembayaran.
Stablecoin JPYC didukung penuh yen secara 1:1, disimpan dalam deposito dan surat berharga pemerintah, serta diklasifikasikan sebagai “instrumen pembayaran elektronik” menurut hukum Jepang—berbeda jelas dari aset kripto yang fluktuatif. Kepastian regulasi ini menjamin setiap token JPYC dapat ditukar dengan fiat yen kapan saja.
Peluncuran JPYC di Avalanche membawa stabilitas yen ke blockchain yang dapat diprogram dan interoperabel. Perusahaan maupun individu dapat menggunakan JPYC untuk remitansi lintas negara, DeFi, dan perdagangan digital, dengan jaminan pengawasan regulasi serta keandalan Avalanche.
Terobosan ini membuka era baru: untuk pertama kalinya, pengguna Jepang dapat mengakses yen on-chain yang sepenuhnya patuh regulasi dan terintegrasi dengan aplikasi keuangan.
Dari ikon budaya Bowmore Whisky hingga infrastruktur keuangan regulasi JPYC, Avalanche kini menjadi bagian masa depan blockchain Jepang. Riset Toyota menempatkan Avalanche sebagai fondasi jaringan mobilitas multi-chain, Simplex membuktikan performa jaringan stabilcoin, dan kemitraan Electronic Network serta Sumitomo Mitsui menandai langkah menuju komersialisasi penuh oleh bank dan penyedia layanan pembayaran terkemuka.
Pesannya tegas: baik koleksi, kendaraan, pembayaran, maupun mata uang, Avalanche menghadirkan kecepatan, kepatuhan, dan desain modular yang dibutuhkan inovator Jepang. Avalanche bukan sekadar hadir di Asia-Pasifik—ia menjadi infrastruktur on-chain yang menyatukan tradisi, industri, dan keuangan.











