

FOMO bukan fenomena baru, namun teknologi digital dan media sosial telah memperluas dampaknya secara signifikan. Efek psikologis ini erat kaitannya dengan naluri sosial manusia, yang mencerminkan ketakutan mendalam untuk tertinggal dari kelompok.
Istilah ini mulai dikenal luas pada awal 2000-an, berawal dari penelitian Dr. Dan Herman, seorang ahli strategi pemasaran yang mengidentifikasi perilaku ini sebagai kekuatan utama dalam pasar. Dr. Herman melakukan analisis sistematis tentang bagaimana “ketakutan kehilangan peluang” membentuk keputusan konsumen, sehingga FOMO diakui sebagai konsep akademis.
Seiring berkembangnya platform seperti Facebook, Instagram, dan Twitter, FOMO semakin menonjol. Platform-platform tersebut terus mengirimkan pembaruan dan notifikasi yang menampilkan orang lain dalam posisi positif atau penuh aspirasi—memicu rasa iri dan kecemasan. Berbagi informasi secara real-time membuat pengguna selalu mengetahui aktivitas orang lain, sehingga memperkuat emosi FOMO.
Di pasar keuangan, FOMO dapat memicu keputusan investasi impulsif. Ketakutan kehilangan potensi keuntungan sering kali mendorong seseorang untuk berinvestasi tanpa riset atau analisis risiko yang memadai. Investor yang melihat orang lain meraih profit cenderung terdorong mengejar kesuksesan serupa.
Perilaku ini sangat menonjol selama masa boom kripto dan volatilitas pasar saham. Misalnya, ketika Bitcoin dan aset kripto lain melonjak, banyak investor langsung terjun setelah melihat kisah sukses di media sosial. Dengan memburu laporan keuntungan orang lain, mereka kerap masuk pasar secara terburu-buru—dan kadang mengalami kerugian besar saat terjadi koreksi harga.
Penting untuk diingat, keputusan investasi yang dipengaruhi FOMO umumnya bersifat emosional dan kurang rasional. Dinamika ini meningkatkan risiko membeli di puncak pasar dan menanggung kerugian besar ketika harga turun.
Perusahaan teknologi dan pengembang aplikasi secara aktif memanfaatkan FOMO dengan merancang fitur dan produk yang memicu respons psikologis ini. Platform digital modern menerapkan berbagai teknik psikologis untuk menarik perhatian dan meningkatkan keterlibatan pengguna.
Notifikasi push, misalnya, menimbulkan rasa urgensi dan mendorong tindakan langsung. Pemberitahuan seperti ini menyiratkan pengguna bisa kehilangan informasi atau peluang penting, sehingga mereka terdorong membuka aplikasi. Umumnya, mereka menggunakan frasa seperti “waktu terbatas,” “eksklusif,” atau “tersisa sedikit lagi” untuk memicu FOMO secara langsung.
Situs e-commerce juga mengoptimalkan FOMO dengan penawaran terbatas dan promo eksklusif, mendorong konsumen membeli dengan cepat karena takut kehilangan kesempatan. Penghitung waktu mundur dan fitur “stok tersisa” semakin memperkuat efek FOMO.
Format postingan waktu terbatas, seperti fitur “Stories” di media sosial, merupakan contoh desain berbasis FOMO. Fitur ini mendorong pengguna agar sering membuka aplikasi supaya tidak ketinggalan konten terbaru.
FOMO sangat memengaruhi perilaku konsumen dan tren pasar. Pengaruhnya terlihat bukan hanya dalam keputusan beli individu, tapi juga strategi pemasaran perusahaan. Saat ini, banyak kampanye pemasaran secara khusus dirancang untuk memanfaatkan psikologi FOMO.
Permintaan terhadap produk dan layanan yang menonjolkan “ketakutan kehilangan pengalaman unik” sebagian besar didorong oleh pola pikir ini. Produk edisi terbatas, event waktu terbatas, dan layanan khusus anggota semuanya menggunakan FOMO untuk menciptakan permintaan.
Dalam investasi, FOMO bisa memperbesar volatilitas pasar. Fenomena “meme stock” menunjukkan saham bisa melonjak akibat euforia pembelian di media sosial. Tren seperti ini muncul ketika investor ritel bertindak bersama berdasarkan informasi yang dibagikan secara daring.
Pesatnya pertumbuhan pasar NFT (Non-Fungible Token) juga menjadi bukti utama kekuatan FOMO. Ketika berita tentang seni digital dan koleksi bernilai tinggi tersebar, banyak orang bergegas masuk, didorong oleh ketakutan kehilangan peluang besar berikutnya.
Di bursa cryptocurrency besar, FOMO sangat memengaruhi perilaku trading. Platform seperti ini menyediakan pembaruan real-time tentang pergerakan pasar, listing koin baru, dan kompetisi trading eksklusif—semuanya memicu FOMO di kalangan pengguna.
Bursa terkemuka merancang fitur agar pengguna tetap aktif dan terinformasi. Notifikasi harga, pengumuman listing baru, dan diskon biaya trading waktu terbatas semuanya mendorong FOMO dan meningkatkan aktivitas trading.
Platform ini juga memperkuat persaingan lewat kontes trading dan leaderboard. Melihat kisah sukses trader lain memicu dorongan untuk meraih profit serupa, sehingga trading menjadi lebih agresif.
Namun, trading berbasis FOMO sering berujung pada pengambilan risiko berlebih dan keputusan emosional. Investor harus tetap waspada—penilaian rasional dan manajemen risiko yang disiplin sangat penting saat beraktivitas di platform tersebut.
FOMO adalah pemicu psikologis yang sangat memengaruhi perilaku konsumen dan dinamika pasar. Dampaknya sangat terasa pada industri teknologi dan keuangan, membentuk mulai dari pilihan individu hingga tren pasar secara keseluruhan.
Dengan memahami dan mengelola FOMO, individu dapat mengambil keputusan yang lebih rasional, sedangkan bisnis bisa menyempurnakan strategi untuk membangun relasi pelanggan yang kuat. Bagi konsumen, penting untuk menilai apakah keputusan mereka didorong oleh FOMO. Bagi perusahaan, memanfaatkan FOMO harus tetap menjaga kepercayaan pelanggan jangka panjang.
FOMO kadang membawa dampak positif—seperti tetap terinformasi atau terlibat—namun, konsumen dan investor perlu mengenali kapan FOMO berperan dan menimbang dengan cermat nilai serta risiko setiap peluang. Mempertahankan ketenangan dan mendasarkan keputusan pada riset serta analisis menyeluruh adalah kunci meminimalisir risiko FOMO.
Di era digital, FOMO merupakan fenomena psikologis yang tak terhindarkan. Dengan mengenali pengaruhnya dan bersikap bijak, konsumen dan investor dapat membuat pilihan yang lebih sehat dan keputusan yang lebih cerdas.
FOMO adalah singkatan dari “fear of missing out”—kecemasan akan melewatkan reli harga atau peluang profit. Di pasar aset kripto, istilah ini mengacu pada dorongan membeli dengan cepat setelah melihat investor lain mendapat keuntungan.
Pergerakan harga yang cepat dan lonjakan volume trading kripto bisa memicu ketakutan kehilangan profit. Media sosial memperkuat efek ini dengan menyebarkan kisah sukses orang lain, sehingga kecemasan tertinggal semakin mendorong FOMO.
FOMO mendorong pembelian impulsif dan manajemen risiko yang buruk, yang sering berujung pada kerugian besar. FOMO bisa memperbesar bubble dan meningkatkan volatilitas. Trading emosional merusak pertumbuhan kekayaan jangka panjang, menjebak investor dalam siklus membeli mahal dan menjual murah.
Jika Anda merasa cemas melihat orang lain sukses, terus memantau berita pasar, atau terdorong melakukan trading impulsif, Anda mungkin mengalami FOMO—terutama jika perasaan tersebut berlangsung lama.
Mulailah dengan mengakui FOMO dan berkomitmen pada pola pikir trading yang disiplin. Susun strategi yang jelas dan utamakan manajemen risiko. Batasi ketergantungan pada media sosial; fokus pada rencana trading sendiri untuk mengurangi pengaruh FOMO.
Media sosial telah mempercepat FOMO secara signifikan. Pembaruan real-time, posting tentang pergerakan harga, dan kisah sukses yang dibagikan memperkuat ketakutan tertinggal reli kripto, sehingga sering memicu keputusan investasi impulsif.











