
Model Bitcoin Stock-to-Flow (S2F) telah menjadi salah satu alat utama di komunitas trading cryptocurrency sejak pertama kali diperkenalkan beberapa tahun lalu. Panduan ini mengulas secara detail seluk-beluk model S2F, penerapan, serta keterbatasannya dalam memprediksi pergerakan harga Bitcoin.
Model Bitcoin S2F adalah alat prediksi harga yang memperkirakan nilai Bitcoin di masa depan berdasarkan dinamika pasokannya. Dikembangkan oleh analis terkemuka, model ini mengadopsi konsep rasio stock-to-flow yang lazim digunakan dalam perdagangan komoditas, lalu diterapkan pada Bitcoin. Model ini berasumsi bahwa kelangkaan Bitcoin, seperti halnya logam mulia, dapat dimanfaatkan untuk memproyeksikan potensi harganya di masa mendatang.
Rasio S2F diperoleh dengan membagi stok saat ini (total pasokan) dengan flow (tingkat produksi tahunan). Untuk Bitcoin, rasio ini terus meningkat seiring berjalannya waktu akibat peristiwa halving yang terjadi kurang lebih setiap empat tahun dan mengurangi jumlah Bitcoin baru yang masuk ke pasar.
Grafik Bitcoin S2F biasanya menampilkan harga pasar Bitcoin sebagai garis berwarna yang dilapiskan di atas proyeksi harga berdasarkan rasio S2F. Warna pada garis harga menandakan waktu menuju halving berikutnya — semakin gelap warnanya, semakin dekat dengan halving; semakin hangat warnanya, semakin jauh dari halving. Grafik tersebut juga memperlihatkan selisih antara harga prediksi dan harga aktual, sehingga trader dapat mengkaji pola historis dan melakukan prediksi yang lebih akurat.
Model Bitcoin S2F diminati karena beberapa alasan berikut:
Meskipun banyak digunakan, model Bitcoin S2F tetap menuai kritik, di antaranya:
Trader biasanya memanfaatkan model Bitcoin S2F untuk memahami arah pergerakan jangka panjang Bitcoin, terutama terkait peristiwa halving. Namun, sangat penting untuk mengombinasikan model ini dengan indikator teknikal dan fundamental lain demi analisis pasar yang lebih menyeluruh.
Model S2F dapat memberikan gambaran tentang kisaran harga jangka panjang Bitcoin, tetapi tidak seharusnya digunakan secara tunggal. Trader sebaiknya melengkapi analisis dengan sinyal lain seperti pola grafik, berita makroekonomi, dan data on-chain agar keputusan trading lebih tepat dan terukur.
Model Bitcoin Stock-to-Flow, meskipun memiliki sejumlah kritik, telah menjadi alat penting bagi para trader kripto. Model ini menawarkan sudut pandang berbeda mengenai nilai jangka panjang Bitcoin yang didasarkan pada kelangkaannya. Namun, seperti halnya model prediksi lainnya, S2F harus menjadi bagian dari analisis yang lebih komprehensif. Dengan memahami kekuatan dan keterbatasannya, trader dapat memanfaatkan model S2F secara optimal dalam strategi investasi cryptocurrency, sambil tetap waspada terhadap kompleksitas dan dinamika pasar kripto.
Rasio Stock-to-Flow adalah indikator kelangkaan yang membandingkan pasokan aset yang beredar dengan produksi tahunannya. Rasio ini banyak digunakan dalam analisis cryptocurrency, terutama Bitcoin, untuk memproyeksi potensi kenaikan nilai seiring berjalannya waktu.







